Tantangan Implementasi Proyek CCS/CCUS Dalam Isu Sosial Dan Lingkungan

Feb 10, 2025 11:30:42 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting

Meskipun teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dianggap sebagai solusi potensial dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, teknologi ini mendapat banyak penolakan dari aktivis lingkungan. Mereka berpendapat bahwa CCS/CCUS tidak hanya gagal mencapai target pengurangan emisi yang dijanjikan, tetapi juga menjadi dalih bagi industri bahan bakar fosil untuk memperpanjang keberadaannya. Teknologi ini memerlukan biaya yang sangat besar, memiliki tantangan teknis yang kompleks, serta berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang merugikan dalam jangka panjang.


(Sumber: Chevron)


Sejarah proyek CCS menunjukkan berbagai kegagalan, seperti yang terjadi pada proyek CCS Gorgon di Australia, yang harus menambah biaya ratusan juta dolar akibat tidak tercapainya target penyimpanan CO2. Kasus serupa terjadi di Aljazair dan Norwegia, di mana injeksi CO2 ke dalam tanah harus dihentikan akibat kekhawatiran kebocoran yang dapat membahayakan lingkungan. Laporan dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) juga menunjukkan bahwa dari 13 proyek CCS berskala besar di dunia, total CO2 yang berhasil disimpan hanya sekitar 39 juta ton per tahun, jauh dari jumlah emisi global yang mencapai 36 miliar ton pada tahun 2021.

Selain ketidakefektifan dalam mengurangi emisi, CCS juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan yang serius. Injeksi CO2 ke dalam tanah dapat meningkatkan tekanan air, menyebabkan pengasaman laut, serta berpotensi memicu gempa bumi akibat pergerakan geologis yang tidak terkendali. Risiko kebocoran CO2 juga dapat berdampak fatal bagi manusia dan hewan, seperti yang terjadi di Mississippi, AS, pada tahun 2020 ketika pipa CO2 bocor, menyebabkan 200 orang dievakuasi dan puluhan lainnya mengalami keracunan karbon dioksida.


(Sumber: Chevron)


Ironisnya, meskipun CCS dikembangkan sejak tahun 1970-an, teknologi ini justru lebih banyak digunakan untuk meningkatkan produksi minyak melalui enhanced oil recovery (EOR). Dengan menyuntikkan CO2 ke ladang minyak tua, industri bahan bakar fosil justru meningkatkan ekstraksi minyak dan gas, yang pada akhirnya menambah emisi karbon ke atmosfer. Data menunjukkan bahwa lebih dari 80% proyek CCS di dunia digunakan untuk tujuan ini, sehingga alih-alih mengurangi emisi, CCS justru memperpanjang usia industri bahan bakar fosil dan memperburuk krisis iklim.

CCS juga merupakan teknologi yang boros energi, terutama pada tahap penangkapan dan kompresi karbon yang memerlukan konsumsi energi sangat besar. Proyek CCS secara rata-rata meningkatkan kebutuhan energi suatu fasilitas hingga 15–25%, sehingga menambah beban bahan bakar fosil yang dibutuhkan dalam operasionalnya. Selain itu, penyimpanan karbon dalam jangka panjang belum memiliki jaminan kepastian hukum yang memadai, karena CO2 yang disimpan di bawah tanah membutuhkan waktu hingga ratusan tahun agar stabil, sementara mekanisme pertanggungjawaban pascaoperasi korporasi penyimpanan karbon masih belum jelas.

Namun, meskipun teknologi CCS terbukti tidak efektif dan berisiko, industri bahan bakar fosil tetap menggunakannya sebagai dalih untuk melanjutkan operasinya. Dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2024, yang mengatur penyelenggaraan CCS dan bahkan membuka peluang impor karbon dari luar negeri untuk disimpan di Indonesia, justru semakin memperkuat ketergantungan pada energi fosil. Kebijakan ini tidak hanya berisiko secara lingkungan, tetapi juga dapat dianggap sebagai bentuk kolonialisme limbah, di mana negara maju membuang karbonnya ke negara berkembang seperti Indonesia.

Melihat berbagai permasalahan ini, organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah untuk menghentikan promosi dan implementasi CCS sebagai bagian dari strategi transisi energi dan mitigasi perubahan iklim. CCS bukanlah solusi yang efektif dalam mengurangi emisi karbon, melainkan hanya alat yang digunakan oleh industri bahan bakar fosil untuk mempertahankan eksistensinya. Pemerintah seharusnya fokus pada pengembangan energi terbarukan yang lebih berkelanjutan, alih-alih mengandalkan teknologi yang gagal dan berisiko tinggi seperti CCS.


Share to:

Get In Touch

+6221 2212 9136

info.batsinternationalgroup@gmail.com

Follow Us

image-responsive

Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1 Level3 Suite 304, SCBD Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53. Jakarta Selatan 12190

+6221 2212 9136

+6281 6110 5174

info@sustainabilityassurer.bats-consulting.com

sustainabilityassurer.bats-consulting.com

Flickr Photos

© Bats Consulting