Oct 11, 2023 03:13:57 pm
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia telah mengungkapkan dua opsi skema
monetisasi atau komersialisasi proyek penyimpanan karbon (Carbon Capture
Storage/CCS) yang sedang dalam pengembangan. Indonesia memiliki potensi
penyimpanan karbon yang luar biasa dengan perkiraan mencapai 400 gigaton CO2,
dan saat ini ada 15 proyek yang tengah dirancang untuk menyimpan sekitar 4,31
gigaton CO2.
Menurut Noor Arifin
Muhammad, yang memimpin Pembinaan Usaha Hulu Migas di Direktorat Jenderal
Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, pemerintah masih dalam tahap merancang
skema monetisasi untuk proyek penyimpanan karbon. Saat ini, ada dua opsi yang
dipertimbangkan: biaya penyimpanan (storage fee) dan perdagangan karbon (carbon
trading).
Skema biaya penyimpanan
akan mengharuskan pihak yang ingin menyimpan karbon membayar biaya tertentu.
Namun, besaran biaya dan pihak yang akan menetapkannya masih dalam pembahasan,
apakah pemerintah atau perusahaan yang memiliki Wilayah Kerja (WK).
Pendekatan ini akan mengacu
pada Production Sharing Contract (PSC), yang mungkin berarti bahwa ada pungutan
royalti kepada negara atau sistem kontrak bagi hasil. Namun, hal ini masih
dalam tahap perencanaan.
Salah satu pengalaman yang
menjadi acuan adalah penggunaan CCS di Eropa, yang meningkat ketika
negara-negara memberlakukan pajak karbon tinggi. Ini mendorong badan usaha
untuk lebih memilih penyimpanan karbon daripada membayar pajak yang mahal.
Nanang Abdul Manaf, Wakil
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi
(SKK Migas), menjelaskan bahwa salah satu usaha utama dalam dekarbonisasi saat
ini adalah adaptasi CCS/CCUS. Salah satu proyek pertama yang diharapkan menjadi
CCS Hub di Indonesia adalah proyek BP Tangguh LNG EGR/CCUS, yang melibatkan
pihak dari Jepang dan Indonesia.
SKK Migas sedang
mengembangkan pedoman operasional untuk penerapan CCS/CCUS yang terintegrasi
dengan lapangan migas, Rencana Pengembangan (PoD), dan manajemen karbon. Dengan
banyak lapangan migas tua di Indonesia, terdapat potensi besar untuk menjadi
lokasi penyimpanan karbon.
Dalam upaya ini,
kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan dalam industri migas akan
menjadi kunci kesuksesan. Potensi besar untuk mendukung pengurangan emisi
karbon dan mengelola karbon secara efektif di Indonesia menuntut kerjasama dan
dukungan yang kuat dari semua pihak terkait.