Jan 15, 2025 11:57:05 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Kebakaran yang sangat hebat telah terjadi di Los Angeles, Selasa siang (7/1) waktu setempat. Kebakaran ini menghanguskan sejumlah wilayah, diantaranya: Palisades, Eaton, Kenneth, dan Hurst. Kebakaran ini semakin diperparah akibat minimnya pasokan air—bahkan kehabisan—yang dapat digunakan oleh kru pemadam kebakaran untuk mengatasi kebakaran tersebut (BBC News Indonesia, 2025).
Penyebab
Kebakaran yang telah terjadi selama beberapa hari ini dipicu oleh angin kencang Santa Ana, ditambah dengan kondisi cuaca Los Angeles yang kering. Kondisi cuaca dan dampak langsung dari perubahan iklim diperkirakan akan terus memicu kebakaran yang terus meluas selama beberapa hari ke depan. Menurut Badan Cuaca Nasional AS, Angin Santa Ana bertiup melalui pegunungan California Selatan dari arah timur ke arah barat. Ramalan cuaca menyebutkan bahwa angin kencang Santa Ana tersebut masih akan terus bertiup hingga pertengahan minggu ini.
Dampak

Kebakaran ini mengakibatkan wilayah di Los Angeles berubah menjadi “lautan api” yang menghanguskan area seluas 160 kilometer persegi (The Associated Press, 2025). Per 12 Januari 2025, melalui Los Angeles County Department of Medical Examiner (2025), dilaporkan bahwa korban jiwa terus bertambah, dan hingga saat ini telah merenggut 24 nyawa. Selain itu, dilaporkan oleh Robert Luna—Los Angeles County Sheriff—yang mengatakan bahwa 16 orang telah dinyatakan hilang selama kebakaran terjadi. Bangunan yang hangus sendiri tercatat telah mencapai hingga 12 ribu bangunan (Rosdalina, 2025). Saat ini telah dilakukan perintah bagi 153 ribu warga Los Angeles untuk mengevakuasikan diri mereka ke wilayah yang lebih aman.
Akibat dari kebakaran ini juga berimbas kepada kerugian secara finansial, yang oleh AccuWeather ditaksirkan kerusakan dan kerugian ini mencapai hingga $150 miliar. Hal ini merentet kepada kerugian perusahaan asuransi, yang juga menaksirkan kerugian dalam jumlah yang sangat besar. J.P. Morgan menggandakan perkiraan kerugian yang diasuransikan menjadi lebih dari $20 miliar, sedangkan Wells Fargo memperkirakan kerugian yang lebih besar dengan nilai mencapai $60 miliar. Hal inilah yang kemudian menjadikan bencana kebakaran ini menjadi bencana alam dengan kerugian terbesar sepanjang sejarah California, AS (Saini, 2025). Selain itu, dampak ini juga dirasakan di bursa pasar saham AS, yang mana membuat banyak perusahaan-perusahaan tumbang. Sebagai contoh adalah perusahaan asuransi multi-lini, Mercury General, yang mana merasakan anjlok paling besar di antara perusahaan asuransi lainnya hingga hampir 20%.
Dalam jangka waktu yang panjang, kebakaran ini akan menyebabkan efek yang sangat buruk bagi lingkungan. Perairan di hutan AS menyumbang 80% sumber air tawar yang kemudian dimanfaatkan oleh 3.400 sistem air minum publik yang tersedia. Dengan setiap kebakaran hutan, daerah aliran sungai menjadi lebih rentan terhadap limpasan air hujan dan erosi. Setelah kebakaran hutan, kapasitas tanah untuk menyerap air sangat terganggu. Selain itu, puing-puing kebakaran, abu, dan zat kimia dari bangunan yang terbakar dapat mencemari sumber air. Hal inilah yang kemudian dapat mengurangi kualitas air minum di masyarakat sekitar.
Dampak lain adalah hilangnya vegetasi hutan yang dapat menyerap 7,6 miliar metrik ton karbon dioksida setiap tahunnya akibat dari kebakaran tersebut. Selain itu, kebakaran hutan juga dapat mengganggu ekosistem satwa liar, apalagi bila satwa tersebut merupakan satwa yang dilindungi. Terjadinya kebakaran artinya berarti banyak habitat alami bagi satwa liar yang hancur. Banyak spesies akan kehilangan tempat tinggal, sumber makanan, dan perlindungan, yang dapat menyebabkan penurunan populasi. Secara alami, air dan tanah yang rusak memiliki dampak buruk pada satwa liar. Partikel udara beracun dari kebakaran hutan juga merupakan salah satu faktor penyebabnya.
Terakhir adalah pengaruhnya bagi kualitas udara, yang mana kebakaran hutan melepaskan karbon dioksida dan emisinya terbukti sangat tinggi. Seperti yang terjadi di California pada tahun 2020, kebakaran hutan ini mampu mengeluarkan 91 juta metrik ton karbon dioksida. Partikel dari asap dan pembakaran bahan kimia berbahaya juga dapat menempuh jarak yang jauh, sehingga semakin mengurangi kualitas udara dan menimbulkan berbagai penyakit pernapasan dan kardiovaskular bagi manusia dan satwa liar (Morrison, 2022).
Upaya Pemulihan
Berbagai upaya dilakukan untuk menangani bencana kebakaran ini. Tujuh negara bagian tetangga, pemerintah federal, serta Kanada dan Meksiko telah mengirimkan sumber daya ke California untuk membantu proses pemadaman. Namun, hal tersebut belum dapat mengatasi sepenuhnya kebakaran yang terjadi. Sebagai contoh adalah wilayah kebakaran Eaton yang mana baru berhasil untuk diatasi sekitar 15% saja.
Beberapa badan amal juga membuka donasi untuk bencana ini. Diantaranya adalah California Community Foundation, California Fire Foundation, L.A. Fire Department Foundation, Pasadena Humane Society, Ventura County Community Foundation, American Red Cross of Greater Los Angeles, Center for Disaster Philanthropy, Direct Relief, World Central Kitchen, dan lain-lainnya (Lavietes, 2025). Dalam hal lain, bantuan telah disiapkan oleh The Federal Emergency Management Agency, yang rencananya akan didistribusikan melalui dana dana untuk perbaikan rumah hingga uang untuk mengganti makanan atau obat-obatan yang hilang.
ASPEK | DETAIL |
Korban Jiwa | 24 korban jiwa terkonfirmasi, 16 orang dinyatakan hilang. |
Evakuasi Penduduk | 153 ribu warga diperintahkan untuk mengungsi ke wilayah yang lebih aman. |
Dampak Finansial | Kerugian mencapai hingga $150 miliar akibat kebakaran yang meluas. |
Dampak ke Sektor Asuransi | J.P. Morgan memperkirakan kerugian yang diasuransikan sebesar $20 miliar, sedangkan Wells Fargo memperkirakan hingga $60 miliar. |
Dampak pada Pasar Saham | Perusahaan asuransi multi-lini, Mercury General, mengalami penurunan saham hingga hampir 20%. |
Dampak pada Lingkungan | Kebakaran hutan memperburuk kualitas air minum, mengurangi penyerapan karbon, merusak habitat satwa, dan mencemari kualitas udara. |
Upaya Pemulihan | Bantuan dari tujuh negara bagian tetangga, Kanada, Meksiko, dan berbagai badan amal untuk pemadaman dan rehabilitasi. |
Keterkaitan dengan Perubahan Iklim

(Sumber: Janet Loerhke/USA Today)
Sebagian besar wilayah barat Amerika Serikat, termasuk California, mengalami kekeringan selama puluhan tahun yang berakhir hanya dua tahun lalu, yang membuat wilayah tersebut rentan (BBC News Indonesia, 2025). Perubahan iklim, termasuk meningkatnya suhu panas, kemarau panjang, dan atmosfer yang gersang, telah menjadi pendorong utama meningkatnya risiko dan luasnya kebakaran ini. Angin Kencang Santa Ana—yang mana seringkali disebut sebagai “devil winds”—menambah parahnya kebakaran tersebut akibat hembusannya yang sangat kencang, hingga menyentuh kecepatan 112 kilometer per jam. Angin ini juga menjadi salah satu penyebab kebakaran yang terjadi pada tahun 2018 lalu di Woolsey, Los Angeles yang mengakibatkan kebakaran seluas hampir 20.000 hektar.
Menurut Scott Capps—Kepala Atmospheric Data Solutions—perubahan iklim akan memiliki pengaruh signifikan terhadap frekuensi dan karakteristik angin Santa Ana Namun, hal tersebut bukan menjadi satu-satunya penyebab. Salah satu pengarung yang perlu diperhatikan, ialah bahwa hubungan yang lebih jelas antara kebakaran Los Angeles dan perubahan iklim adalah kurangnya curah hujan selama musim hujan di wilayah tersebut. Beberapa bagian California Selatan hanya menerima 10% dari curah hujan normal sejak Oktober, membuat wilayah tersebut siap untuk kebakaran.
Perubahan iklim yang terjadi saat ini secara langsung memengaruhi sistem hydroclimate secara global, yang mana disebut sebagai hydroclimate whiplash (guncangan hidro-iklim). Pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca telah mengubah pola distribusi air di bumi. Dalam kasus ini, kondisi yang sangat basah segera diikuti oleh pola cuaca kering, biasanya disertai dengan suhu di atas rata-rata. Atmosfer menjadi lebih haus seiring menghangatnya iklim, menarik lebih banyak uap air dari tanaman. Hal ini menyebabkan tumbuh-tumbuhan menjadi hijau kemudian mengering karena penguapan, sehingga menghasilkan banyak "bahan bakar" untuk menyalakan api. Secara singkat, perubahan iklim tidak memicu kebakaran dahsyat di Los Angeles. Namun, konsekuensi atas perubahan iklim tersebut lah yang memperburuk kebakaran yang terjadi (Freedman, 2025).