SBFN Toolkit on Sustainable Finance Taxonomies merupakan bagian dari serangkaian panduan yang dikembangkan oleh Sustainable Banking and Finance Network (SBFN) bersama dengan International Finance Corporation (IFC) untuk mendukung negara-negara anggota dalam mengembangkan kerangka kerja pendukung nasional untuk keuangan berkelanjutan. Toolkit ini dirancang untuk regulator sektor keuangan dan asosiasi perbankan di pasar negara berkembang yang sedang dalam proses mengembangkan taksonomi regional atau nasional atau telah melakukannya dan ingin memperbarui taksonomi mereka dengan memanfaatkan praktik internasional yang baik dan pelajaran yang dapat dipetik dari yurisdiksi lain.
International Capital Market Association (ICMA) mendefinisikan sustainable finance taxonomy sebagai sebuah sistem klasifikasi yang mengidentifikasi kegiatan, aset, dan/atau kategori proyek yang memberikan dampak iklim, hijau (lingkungan), sosial, atau berkelanjutan, dengan mengacu pada ambang batas dan/atau target yang telah diidentifikasi. Tujuan utama dari sustainable finance taxonomy adalah untuk menyediakan bahasa yang seragam mengenai apa yang dianggap "hijau", "sosial", dan "berkelanjutan". Dengan adanya bahasa yang jelas dan terstandarisasi, taksonomi dapat membantu dalam mengidentifikasi sektor, kegiatan, dan entitas yang memenuhi kriteria yang disepakati, yang pada gilirannya memberikan arahan yang lebih tepat bagi investor dan pihak terkait. Taksonomi ini juga berfungsi untuk mengurangi praktik greenwashing, yang sering kali menyebabkan klaim keberlanjutan yang tidak berdasar. Dengan mengurangi greenwashing, taksonomi dapat membantu menciptakan lingkungan investasi yang lebih transparan dan akuntabel.
Selain itu, taksonomi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals yang lebih ambisius, dengan memastikan bahwa kegiatan yang didanai benar-benar berkontribusi pada pencapaian tujuan tersebut. Taksonomi memungkinkan negara dan entitas keuangan untuk memfokuskan dana pada proyek yang mendukung keberlanjutan dalam jangka panjang, seperti mitigasi perubahan iklim, konservasi alam, dan pengembangan sosial yang inklusif. Taksonomi ini juga dapat mencakup kriteria untuk mengelola risiko dan dampak sosial serta lingkungan yang mungkin timbul dari suatu kegiatan, memastikan bahwa proyek yang didanai tidak menimbulkan kerusakan pada masyarakat atau lingkungan sekitar.
Dengan pendekatan yang terstruktur dan jelas, taksonomi juga dapat memperkuat kepercayaan investor, memberikan mereka jaminan bahwa dana yang mereka investasikan benar-benar akan mendukung keberlanjutan dan tidak hanya dimanfaatkan untuk tujuan yang merugikan. Kepercayaan ini penting agar pasar keuangan berkelanjutan dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih sehat. Selain itu, taksonomi membantu mendorong inovasi dalam sektor keuangan dengan membuka peluang bagi lebih banyak entitas untuk berpartisipasi dalam ekonomi hijau dan berkelanjutan.
Mewujudkan Tujuan Internasional dan Prioritas Nasional

Taksonomi menawarkan cara bagi sebuah negara untuk memastikan bahwa aset, kegiatan, proyek, dan entitas lokal yang diberi label ramah lingkungan, sosial, dan berkelanjutan dapat membuat substantial contribution (kontribusi substansial) dalam mencapai tujuan internasional dan strategi serta prioritas pembangunan nasional. Agar dapat mencapai tujuan internasional tersebut, taksonomi dapat disusun berdasarkan empat tingkatan yang saling berhubungan. Setiap tingkatan mencerminkan upaya dan peraturan yang diterapkan untuk mendukung keberlanjutan dalam sektor keuangan dan investasi.
Pada tingkat global, tujuan keberlanjutan ditetapkan untuk diterapkan secara luas di seluruh dunia. Di tingkat ini, ada komitmen untuk mengatasi masalah perubahan iklim, melindungi keanekaragaman hayati, dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan oleh masyarakat internasional. Negara-negara di seluruh dunia sepakat untuk bertindak dalam menghadapi tantangan global yang mendesak ini, dengan tujuan bersama untuk menciptakan dampak positif di seluruh dunia.
Pada tingkat regional, kebijakan dan kerangka kerja dikembangkan untuk mendukung negara-negara dalam mendorong aliran investasi yang berkelanjutan ke arah tujuan yang lebih besar dan mendukung kolaborasi antarnegara. Di tingkat ini, negara-negara bekerja sama untuk memastikan bahwa investasi dan kebijakan mereka selaras dengan tujuan bersama, serta memfasilitasi investasi lintas batas yang dapat memperkuat upaya kolektif untuk mencapai keberlanjutan. Kerangka kerja ini membantu negara-negara dalam mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam sektor keuangan, mendorong aliran dana yang mendukung perubahan yang positif.
Pada tingkat nasional, setiap negara menyesuaikan kebijakan keberlanjutan mereka dengan kondisi lokal dan prioritas masing-masing, dengan tetap berkomitmen pada tujuan global. Negara menetapkan sasaran keberlanjutan yang spesifik, baik itu terkait dengan mitigasi perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, atau pembangunan sosial yang inklusif. Dengan adanya kebijakan yang jelas dan terarah, negara-negara dapat mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang mendukung tujuan keberlanjutan mereka, serta memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi tanpa mengorbankan masa depan lingkungan atau sosial.
Pada tingkat industri, sektor swasta berperan penting dalam mengimplementasikan taksonomi keberlanjutan dalam kegiatan operasional mereka. Perusahaan-perusahaan dan industri harus menyesuaikan strategi mereka untuk selaras dengan tujuan keberlanjutan yang ditetapkan di tingkat global dan nasional. Hal ini mencakup perubahan dalam cara berbisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial, termasuk mengadopsi praktik ramah lingkungan, mendanai proyek hijau, dan menciptakan produk serta layanan yang mendukung keberlanjutan. Sektor industri berperan dalam menggerakkan transisi ke ekonomi hijau melalui inovasi yang mendukung tujuan bersama dalam keberlanjutan.
Berbagai Jenis Taksonomi

Negara-negara kini terus memperluas cakupan taksonomi mereka. Hal ini dilakukan bukan dengan hanya membuat taksonomi yang berfokus pada mitigasi iklim saja, tetapi juga memasukkan tema-tema sosial (seperti inklusi keuangan, gender, kesehatan, dan pendidikan) serta tema-tema lingkungan hidup lainnya (seperti keanekaragaman hayati, penggunaan lahan, dan keuangan biru).
1. | Climate Finance Taxonomies | : | Berfokus pada kegiatan lintas sektor yang selaras dengan pencapaian Paris Agreement tentang Perubahan Iklim. |
2. | Green Finance Taxonomies | : | Bertujuan untuk berkontribusi pada berbagai tujuan lingkungan hidup dan ekonomi hijau yang lebih luas, termasuk blue finance dan keuangan keanekaragaman hayati. |
3. | Social Finance Taxonomies | : | Bertujuan untuk mendorong modal ke tujuan-tujuan sosial yang penting, seperti kesehatan, pendidikan, dan inklusi. |
4. | SDGs Taxonomies | : | berupaya memperluas cakupan keuangan untuk menangani 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) |
5. | Transition Finance Taxonomies | : | Bertujuan untuk memungkinkan pendanaan dalam kegiatan yang tidak memenuhi kriteria pendanaan hijau atau iklim yang ketat tetapi penting bagi strategi nasional untuk memenuhi Nationally Determined Contribution/NDC berdasarkan Paris Agreement. Taksonomi ini membutuhkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan yang kuat dan rencana transisi yang kredibel. |
6. | Taxonomies of Undesirable Activities | : | Dapat digunakan untuk menunjukkan aktivitas berpolusi tinggi, berbahaya, atau meningkatkan risiko yang harus dihindari. |
Pendekatan Umum dalam Pengembangan dan Implementasi Taksonomi

Dengan semakin banyaknya negara yang menerbitkan taksonominya, seharusnya, ada kebutuhan untuk tata kelola dan pemeliharaan berkelanjutan atas taksonomi ini. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa taksonomi dapat berjalan secara efektif, dan juga taksonomi yang telah ada dapat terus diperbarui dan dikembangkan. Taksonomi perlu ditanamkan dalam kerangka kerja nasional yang kuat untuk keuangan berkelanjutan yang melibatkan regulator dan perwakilan industri dari semua bagian sektor keuangan. Taksonomi tersebut juga perlu dikaitkan dengan peraturan, arahan, dan persyaratan pengungkapan. Pendekatan umum dalam pengembangan dan implementasi taksonomi terdiri dari tiga dimensi, yang mencakup: tata kelola taksonomi, desain taksonomi, dan implementasi taksonomi.
Tata Kelola Taksonomi
Tata kelola taksonomi yang jelas dan terstruktur merupakan elemen krusial dalam memastikan implementasi yang efektif dalam taksonomi ekosistem keuangan berkelanjutan. Salah satu langkah utama adalah mengonfirmasi lembaga-lembaga utama yang akan bertanggung jawab atas pengelolaannya. Keputusan apakah taksonomi akan dikelola oleh regulator atau industri harus dibuat dengan mempertimbangkan efektivitas dan keberlanjutannya. Selain itu, kelompok pemangku kepentingan yang relevan, termasuk regulator keuangan, otoritas pengawas, serta industri jasa keuangan, perlu dilibatkan secara aktif agar taksonomi dapat diterapkan dengan baik.
Selain menetapkan struktur awal, perlu dibuat rencana untuk perluasan dan peninjauan taksonomi yang berkelanjutan agar tetap relevan dengan perkembangan sektor keuangan. Dalam berbagai yurisdiksi, taksonomi terus berkembang dengan menyesuaikan kategori dan aktivitas yang dicakup, serta memperbarui kriteria keselarasan. Proses ini memerlukan strategi yang terencana dengan baik agar ekspansi dapat dilakukan secara sistematis. Untuk mendukung keberlanjutan, peran dan tanggung jawab setiap pihak dalam proses peninjauan harus didefinisikan dengan jelas sehingga tidak ada ketimpangan dalam pelaksanaan.
Interaksi dengan pemangku kepentingan merupakan aspek penting dalam tata kelola taksonomi karena penerapan yang efektif bergantung pada keterlibatan berbagai pihak. Regulator, lembaga keuangan, sektor swasta, UMKM, akademisi, serta masyarakat sipil harus memiliki akses terhadap saluran komunikasi yang terstruktur untuk memberikan masukan. Saluran ini harus mendukung peningkatan kesadaran, memberikan ruang bagi diskusi teknis mengenai kriteria taksonomi, serta membantu mengatasi hambatan adopsi yang mungkin muncul. Dengan demikian, transparansi dan partisipasi aktif dari semua pihak dapat meningkatkan efektivitas implementasi taksonomi.
Selain itu, koneksi antara taksonomi dengan regulasi kehati-hatian, pengawasan pasar, dan insentif perlu diperjelas untuk memastikan keselarasan kebijakan. Banyak negara mengadopsi mekanisme yang mewajibkan bank untuk melaporkan penyaluran kredit yang sesuai dengan taksonomi sebagai bagian dari pengawasan pasar. Hubungan ini membantu menciptakan kejelasan dalam penerapan taksonomi di sektor keuangan, serta meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip berkelanjutan. Dengan dukungan regulasi yang kuat, penerapan taksonomi dapat lebih mudah diintegrasikan dalam kebijakan industri dan pasar modal.
Tinjauan rutin terhadap implementasi taksonomi juga merupakan langkah penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi tantangan yang dihadapi dalam penerapannya. Beberapa tantangan umum meliputi kurangnya kesadaran di pasar, kebutuhan akan panduan yang lebih jelas, serta ketidakpastian mengenai persyaratan jaminan independen. Selain itu, biaya yang terkait dengan proses penyelarasan juga dapat menjadi hambatan bagi suatu entitas dalam mengadopsi taksonomi secara menyeluruh. Oleh karena itu, regulator harus secara berkala mengevaluasi efektivitas penerapan taksonomi serta merespons kendala yang muncul dengan kebijakan yang adaptif dan solutif.

Desain Taksonomi
Langkah pertama dalam mendesain taksonomi adalah memperjelas pendekatan tujuan agar sesuai dengan kebutuhan pasar dan pengguna utama. Setiap yurisdiksi memiliki kebutuhan yang berbeda, baik dari segi kepentingan investor internasional, regulator nasional, bank, maupun pasar modal. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi secara spesifik tujuan utama dari taksonomi nasional sebelum merancangnya. Selain itu, perlu dipertimbangkan bagaimana taksonomi ini akan dikaitkan dengan instrumen dan peraturan yang ada atau yang akan dikembangkan di masa depan.
Setelah tujuan ditetapkan, penelitian dan perbandingan dengan yurisdiksi lain menjadi langkah yang krusial untuk memahami praktik terbaik yang telah diterapkan secara global. Banyak negara telah mengembangkan taksonomi keuangan berkelanjutan yang bisa menjadi referensi dalam perancangan nasional. Selain membandingkannya, analisis terhadap prioritas ekonomi domestik juga harus dilakukan agar taksonomi yang dirancang dapat selaras dengan kebijakan nasional. Pemilihan sektor hijau lokal yang menjadi prioritas harus mempertimbangkan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), Nationally Determined Contribution/NDC, serta potensi transisi menuju ekonomi yang rendah karbon.
Proses perancangan taksonomi harus dilakukan melalui konsultasi dengan pemangku kepentingan agar mendapatkan perspektif yang luas dan inklusif. Konsultasi tersebut dapat melibatkan perusahaan konsultan atau komite teknis yang bertanggung jawab atas penyusunan kerangka taksonomi. Partisipasi aktif dari pemangku kepentingan dapat difasilitasi melalui berbagai mekanisme, seperti webinar, Focus Group Discussions (FGD), percakapan bilateral, serta komite pengarah atau kelompok ahli. Dengan pendekatan ini, rancangan taksonomi dapat lebih sesuai dengan kebutuhan pasar dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang terlibat dalam implementasinya.
Setelah rancangan awal selesai, uji coba melalui kasus percontohan sangat penting untuk menilai efektivitas dan kemudahan penerapan taksonomi. Latihan percontohan ini memungkinkan lembaga keuangan dan perusahaan untuk menguji mekanisme penyelarasan dengan taksonomi dalam skenario nyata. Dari hasil uji coba, berbagai wawasan berharga dapat diperoleh, termasuk identifikasi area yang masih memerlukan penyempurnaan dan kejelasan lebih lanjut. Pengujian ini juga membantu dalam mengidentifikasi potensi tantangan dalam implementasi sehingga dapat diatasi sebelum taksonomi diadopsi secara luas.
Langkah terakhir dalam desain taksonomi adalah menyelesaikan, mempublikasikan, dan mengomunikasikan hasil akhir kepada publik. Sebelum peluncuran resmi, penting untuk membuka periode pendapat publik selama 30 hingga 60 hari guna mendapatkan masukan akhir dari berbagai pemangku kepentingan. Setelah revisi berdasarkan masukan tersebut, versi final dapat dipublikasikan bersama dengan organisasi utama yang bertanggung jawab atas implementasinya. Agar taksonomi dapat diterapkan secara efektif, strategi komunikasi yang luas harus dilaksanakan melalui webinar, acara industri, serta publikasi alat bantu dan templat bantuan. Selain itu, perlu dipersiapkan rencana jangka panjang untuk ekspansi dan revisi taksonomi sesuai dengan dinamika pasar dan perkembangan regulasi.
Implementasi Taksonomi
Setelah taksonomi diterbitkan, langkah selanjutnya adalah membangun kapasitas lembaga pelaksana agar dapat mengimplementasikan taksonomi dengan efektif. Peningkatan kapasitas ini tidak hanya terbatas pada staf internal lembaga pelaksana, tetapi juga perlu diperluas kepada pengguna dan penyedia layanan, seperti perusahaan konsultan dan penyedia Opini pihak kedua. Agar adopsi taksonomi berjalan lancar, penting untuk menyediakan perangkat pendukung, pedoman yang jelas, serta fase uji coba yang memungkinkan pihak terkait untuk memahami secara mendalam cara kerja taksonomi ini dalam praktik. Penguatan kapasitas ini akan memastikan bahwa taksonomi dapat diterapkan secara konsisten dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Taksonomi juga dapat menjadi dasar bagi regulasi yang lebih luas dalam sektor keuangan dan swasta. Salah satu mekanisme yang paling efektif untuk mendorong penerapan taksonomi adalah dengan mewajibkan entitas di sektor keuangan dan swasta untuk melaporkan tingkat keselarasan mereka dengan taksonomi. Hal ini bukan hanya meningkatkan transparansi, tetapi juga mendukung pengembangan instrumen keuangan berkelanjutan yang lebih jelas. Selain itu, taksonomi ini dapat digunakan dalam manajemen risiko kehati-hatian, yang mana bank dan lembaga keuangan lainnya dapat memanfaatkan taksonomi untuk menilai risiko kredit terkait dengan pembiayaan proyek-proyek yang ramah lingkungan.
Untuk memastikan taksonomi diterapkan secara terstruktur dan berkelanjutan, penting untuk mengembangkan peta jalan implementasi yang berurutan. Peta jalan ini akan memberikan kejelasan bagi regulator dan pasar mengenai waktu yang tepat bagi sektor swasta untuk menyelaraskan diri dengan taksonomi dan mengungkapkan keselarasan mereka. Peta jalan juga perlu mengatur apa yang diharapkan dari badan pengatur, kapan taksonomi dapat diwajibkan, serta kapan akan ada pembaruan atau perluasan pada taksonomi itu sendiri. Dengan adanya peta jalan yang jelas, semua pihak yang terlibat dapat mempersiapkan diri untuk tahap implementasi secara sistematis dan terarah.
Metrik yang digunakan untuk memantau dan mengevaluasi keberhasilan taksonomi harus disepakati dengan cermat, karena ini akan menjadi indikator utama apakah taksonomi berfungsi sesuai harapan. Beberapa negara seperti Bangladesh, Mongolia, dan Tiongkok telah berhasil menggunakan taksonomi untuk menghasilkan data jangka panjang mengenai penerbitan pinjaman dan obligasi hijau, serta mengevaluasi hubungan dengan risiko kredit yang lebih rendah. Metrik semacam ini memberikan gambaran mengenai efektivitas taksonomi dan apakah ada penyesuaian yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan manfaatnya.
Terakhir, pengumpulan data dan komunikasi hasil implementasi taksonomi sangat penting untuk memastikan akuntabilitas dan transparansi dalam penggunaan taksonomi. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah mewajibkan entitas untuk mengungkapkan data penyelarasan mereka secara publik, sehingga semua pihak dapat melihat perkembangan yang telah dicapai. Selain itu, entitas juga dapat diwajibkan untuk melapor kepada regulator, yang kemudian akan mempublikasikan data agregat untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang penerapan taksonomi. Analisis terperinci terhadap data ini selama beberapa tahun juga akan memberikan wawasan yang berguna dalam evaluasi dan pengembangan taksonomi di masa depan.