Strategi Keterlibatan Klien bagi Bank dalam Memenuhi CRMS oleh OJK

Feb 27, 2025 08:50:43 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting

Kerangka Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS) yang diperkenalkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan bank di Indonesia untuk mengintegrasikan pertimbangan risiko iklim dalam operasional mereka. Salah satu elemen penting dalam kepatuhan CRMS adalah keterlibatan klien, yang memastikan bahwa lembaga keuangan membimbing nasabah korporasi menuju praktik bisnis yang berkelanjutan sekaligus mengelola risiko keuangan terkait iklim.

Mengapa Keterlibatan Klien Penting dalam Kepatuhan CRMS?

Keterlibatan klien merupakan strategi utama dalam mengelola emisi yang dibiayai (financed emissions) dan memastikan praktik pembiayaan yang berkelanjutan. Dalam CRMS, bank diwajibkan untuk:

  • Menilai dan mengelola risiko iklim dalam portofolio kredit mereka.

  • Membantu nasabah korporasi dalam bertransisi ke operasional rendah karbon.

  • Memastikan risiko iklim tidak mengganggu stabilitas keuangan.

  • Melaporkan kemajuan keterlibatan dan upaya mitigasi risiko.

Pendekatan keterlibatan klien yang terstruktur membantu bank mengurangi eksposur terhadap risiko iklim sekaligus membuka peluang pembiayaan baru dalam ekonomi hijau.


Kerangka Keterlibatan Klien untuk Implementasi CRMS

Panduan PRB (Principles for Responsible Banking) tentang Keterlibatan Klien menyusun lima langkah siklus keterlibatan klien yang dapat diintegrasikan oleh bank dalam strategi kepatuhan CRMS mereka:

1. Pembukaan Dialog dan Pengenalan

  • Menyusun strategi komunikasi yang jelas terkait tujuan keberlanjutan.

  • Memberikan edukasi kepada klien mengenai risiko iklim dan persyaratan regulasi.

  • Menjelaskan manfaat pembiayaan berkelanjutan, termasuk mitigasi risiko dan peningkatan daya saing di pasar.

2. Penilaian Kebutuhan dan Peningkatan Kesadaran

  • Melakukan penilaian keberlanjutan untuk memahami eksposur risiko iklim klien.

  • Mengidentifikasi kesenjangan dalam pemahaman risiko iklim dan memberikan panduan praktik terbaik.

  • Menggunakan analisis dampak portofolio untuk memprioritaskan sektor dan klien berisiko tinggi.

3. Menentukan Rencana Dukungan

  • Mengembangkan rencana transisi iklim yang disesuaikan bagi klien korporasi.

  • Menawarkan solusi pembiayaan hijau seperti pinjaman terkait keberlanjutan (SLLs) dan obligasi hijau.

  • Menyediakan bantuan teknis dan layanan konsultasi agar bisnis dapat beradaptasi dengan regulasi iklim.

4. Implementasi Rencana Dukungan

  • Memperkenalkan insentif keuangan bagi model bisnis berkelanjutan.

  • Mendorong klien untuk menerapkan strategi pengurangan emisi.

  • Membantu bisnis dalam memenuhi persyaratan pengungkapan OJK terkait emisi yang dibiayai.

5. Pemantauan dan Pelaporan

  • Melacak kemajuan klien dalam menerapkan rencana transisi iklim.

  • Menetapkan indikator kinerja utama (KPIs) untuk mengukur keberhasilan keterlibatan.

  • Mengintegrasikan data risiko iklim ke dalam laporan tahunan keuangan dan keberlanjutan.


Kategorisasi Klien untuk Keterlibatan yang Efektif

Tidak semua klien memiliki tingkat eksposur risiko iklim atau kesiapan transisi yang sama. Oleh karena itu, bank harus mengategorikan klien menjadi tiga kelompok utama:

  1. Klien Risiko Tinggi (misalnya, batubara, minyak & gas, industri berat)

    • Membutuhkan keterlibatan segera dan rencana transisi yang terstruktur.

    • Harus didorong untuk menetapkan target net-zero dan pengungkapan risiko iklim.

  2. Klien Risiko Menengah (misalnya, real estat, manufaktur, transportasi)

    • Memerlukan panduan terkait efisiensi energi dan praktik rantai pasok berkelanjutan.

    • Berpotensi mendapatkan manfaat dari pembiayaan hijau dan insentif untuk pengurangan emisi.

  3. Klien Risiko Rendah (misalnya, teknologi, keuangan, jasa)

    • Dapat dijadikan contoh praktik keberlanjutan terbaik.

    • Dapat didorong untuk mengadopsi strategi investasi berbasis ESG.


Cara Bank Menyelaraskan Keterlibatan Klien dengan CRMS OJK

OJK mewajibkan bank untuk melakukan Climate Risk Stress Testing (CRST) dan mengintegrasikan skenario iklim dalam penilaian risiko. Agar sesuai dengan persyaratan ini, bank dapat:

1. Menggunakan Skenario Iklim NGFS untuk Penilaian Risiko

  • Menerapkan skenario Orderly, Disorderly, dan Hot House untuk mengevaluasi risiko iklim.

  • Memastikan klien memahami dampak finansial dari kebijakan transisi yang tertunda.

2. Menyelaraskan Keterlibatan dengan Komitmen Kebijakan Iklim Indonesia

  • Mendorong klien untuk mematuhi Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDCs).

  • Mendukung bisnis dalam memenuhi kebijakan harga karbon dan pengurangan emisi.

3. Menerapkan Produk Keuangan Hijau

  • Menawarkan pinjaman terkait keberlanjutan (SLLs) yang dikaitkan dengan target pengurangan emisi.

  • Mengembangkan fasilitas kredit hijau bagi klien yang berinvestasi dalam energi terbarukan.

  • Mengintegrasikan penetapan harga risiko karbon dalam struktur pinjaman.

Dengan menerapkan strategi keterlibatan klien yang efektif, bank dapat memenuhi persyaratan CRMS OJK sekaligus mendorong transisi ke ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan.

Share to:

Get In Touch

+6221 2212 9136

info.batsinternationalgroup@gmail.com

Follow Us

image-responsive

Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1 Level3 Suite 304, SCBD Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53. Jakarta Selatan 12190

+6221 2212 9136

+6281 6110 5174

info@sustainabilityassurer.bats-consulting.com

sustainabilityassurer.bats-consulting.com

Flickr Photos

© Bats Consulting