Transparansi Pajak Aset Digital, Langkah Ketat Pemerintah Inggris dan Kontroversi Larangan CBDC di Florida
Dec 05, 2023 11:19:14 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Pemerintah Inggris sedang
memperketat kontrol terhadap pembayaran pajak terkait kripto. Mereka mendorong
pemilik mata uang kripto untuk secara sukarela melaporkan keuntungan atau
pendapatan yang berasal dari aset digital seperti kripto, NFT, dan token utilitas.
HM Revenue & Customs
Inggris meminta agar pemilik aset kripto mengungkapkan keuntungan modal yang
belum dilaporkan dan membayar pajak untuk menghindari denda. Panduan ini
meminta pemilik aset kripto untuk mengevaluasi pajak yang belum dibayar, dengan
masa pengungkapan bergantung pada seberapa jujur mereka dalam pelaporan pajak
sebelumnya.
Orang-orang yang telah
melaporkan dengan benar sebelumnya harus membayar pajak tertunggak selama 4
tahun, sementara yang kurang jujur harus membayar selama 6 tahun. Mereka yang
dengan sengaja menipu harus membayar pajak tertunggak selama maksimal 20 tahun.
Pengguna yang melaporkan
diberi 30 hari untuk membayar pajak terutang. Kegagalan membayar dapat
mengakibatkan tindakan oleh Departemen Keuangan.
Pemerintah Inggris
berencana memperkenalkan bagian dalam formulir pajak untuk pemilik kripto guna
melaporkan keuntungan. Perubahan ini diharapkan diterapkan pada tahun fiskal
2024-2025 untuk menyederhanakan pelaporan dan membantu petugas pajak.
Inggris berusaha menjadi
pusat global untuk industri kripto dan telah mengumumkan rencana untuk mengatur
aset kripto di bawah Financial Conduct Authority (FCA).
Di AS, Gubernur Florida Ron
DeSantis menandatangani undang-undang yang melarang penggunaan mata uang
digital bank sentral (CBDC) di negara bagian tersebut. Dia menyoroti
kekhawatiran akan penggunaan CBDC untuk mengawasi transaksi secara real-time.
RUU ini telah disahkan
dengan mayoritas suara setuju. DeSantis juga mengklaim pemerintahan Biden
sedang mempelajari CBDC untuk menghilangkan jenis aset digital lainnya seperti
cryptocurrency.
Langkah Florida melarang
CBDC terjadi di tengah pembicaraan tentang pengembangan CBDC di berbagai
negara. Banyak bank sentral sedang mempertimbangkan CBDC untuk memodernisasi
sistem ekonomi mereka dan meningkatkan layanan keuangan kepada warga. China menjadi
salah satu yang memimpin adopsi CBDC, sementara negara lain seperti Korea
Selatan, Jepang, Indonesia, India, dan Rusia juga sedang dalam tahap
pengembangan atau percobaan.
Share to: