Memahami Emisi Gas Rumah Kaca: Peran Scope 1, 2, dan 3 dalam Strategi Keberlanjutan Perusahaan

Apr 17, 2025 11:44:18 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting

Perubahan iklim telah menjadi perhatian global yang mendesak dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai sektor industri dituntut untuk bertanggung jawab atas jejak karbon mereka guna menjaga suhu bumi tetap terkendali. Salah satu pendekatan yang paling diakui secara internasional untuk mengukur, melaporkan, dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) adalah Greenhouse Gas (GHG) Protocol.

GHG Protocol memperkenalkan klasifikasi emisi ke dalam tiga kategori utama yang dikenal sebagai Scope 1, Scope 2, dan Scope 3. Masing-masing scope memberikan gambaran berbeda tentang sumber emisi, serta memberikan dasar bagi perusahaan untuk menyusun strategi dekarbonisasi yang komprehensif.


Memahami GHG Protocol dan Klasifikasi Scope

GHG Protocol merupakan standar yang dikembangkan oleh World Resources Institute (WRI) dan World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). Standar ini telah menjadi pedoman global dalam pelaporan emisi karbon untuk perusahaan, pemerintahan, dan organisasi non-profit.

Klasifikasi emisi dalam GHG Protocol terdiri dari:

Scope 1: Emisi Langsung (Direct Emissions)

Scope 1 mencakup emisi yang dihasilkan langsung dari aset atau proses yang dikendalikan oleh organisasi. Contohnya termasuk:

  • Pembakaran bahan bakar untuk pemanas atau proses industri

  • Emisi dari kendaraan operasional milik perusahaan

  • Pelepasan emisi dari proses kimia di pabrik

Emisi Scope 1 biasanya mudah diidentifikasi dan diukur karena berada di bawah kendali langsung perusahaan.

Scope 2: Emisi Tidak Langsung dari Energi yang Dibeli

Scope 2 mencakup emisi tidak langsung yang berasal dari pembangkitan energi yang dibeli perusahaan, seperti:

  • Listrik

  • Uap

  • Pemanasan atau pendinginan

Meskipun tidak dihasilkan langsung oleh organisasi, penggunaan energi ini tetap menjadi tanggung jawab perusahaan karena merupakan bagian dari operasionalnya.

Scope 3: Emisi Tidak Langsung Lainnya (Value Chain Emissions)

Scope 3 adalah kategori paling luas dan kompleks karena mencakup seluruh emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai perusahaan, baik di hulu (upstream) maupun hilir (downstream). Contohnya:

  • Produksi bahan baku dan barang yang dibeli

  • Transportasi oleh pihak ketiga

  • Perjalanan bisnis dan komuter karyawan

  • Penggunaan produk oleh konsumen

  • Pembuangan akhir produk

Menurut CDP Global, Scope 3 dapat mencakup hingga 80% atau lebih dari total emisi perusahaan, tergantung pada industrinya.


Mengapa Scope 1, 2, dan 3 Penting bagi Perusahaan?

1. Transparansi Emisi dan Tanggung Jawab Korporasi

Klasifikasi scope memungkinkan perusahaan untuk melihat secara menyeluruh sumber emisi mereka. Hal ini meningkatkan transparansi dan menghindari praktik greenwashing, yaitu memberikan kesan palsu tentang keberlanjutan.

2. Identifikasi Peluang Pengurangan Emisi

Dengan memahami proporsi emisi dari tiap scope, perusahaan dapat mengarahkan strategi dekarbonisasi secara tepat. Misalnya, jika sebagian besar emisi berasal dari Scope 3, maka pendekatan perlu difokuskan pada pemasok dan pelanggan.

3. Daya Saing dalam Pasar yang Semakin Hijau

Banyak investor kini menilai kinerja keberlanjutan sebagai faktor dalam pengambilan keputusan investasi. Perusahaan yang melaporkan dan mengelola emisinya dengan baik memiliki reputasi lebih baik dan daya tarik investasi yang lebih tinggi.

4. Mendukung Target Global dan Regulasi

Pelaporan berdasarkan scope membantu perusahaan menyelaraskan diri dengan target-target global seperti Perjanjian Paris, serta mempersiapkan diri menghadapi regulasi pelaporan karbon yang semakin ketat, seperti EU CSRD atau kebijakan net-zero nasional.


Studi Kasus dan Implementasi di Lapangan

Perusahaan global seperti Apple, Microsoft, dan Unilever telah mengadopsi pelaporan emisi berdasarkan GHG Protocol:

  • Apple melaporkan bahwa sekitar 70% dari emisinya berasal dari aktivitas Scope 3, terutama dalam rantai pasok. Oleh karena itu, mereka berfokus pada kolaborasi dengan pemasok untuk menggunakan energi terbarukan.

  • Google telah mencapai penggunaan 100% energi terbarukan untuk operasionalnya, menghilangkan sebagian besar emisi Scope 2.

  • Microsoft menerapkan carbon internal pricing untuk semua divisi guna memacu pengurangan emisi dari Scope 1 hingga 3.


Tantangan dalam Pelaporan dan Pengelolaan Scope 3

Meskipun Scope 3 penting, pelaporannya penuh tantangan, antara lain:

  • Kesulitan Akses Data: Banyak data berada di luar kendali perusahaan, terutama pada pihak ketiga.

  • Keterbatasan Standarisasi: Beragam metode pengukuran dapat menimbulkan ketidakkonsistenan.

  • Kompleksitas Rantai Nilai: Semakin panjang dan global rantai nilai, semakin sulit untuk melacak emisi.

Solusinya mencakup penggunaan tool digital berbasis AI, kolaborasi dengan mitra rantai pasok, dan penerapan kebijakan keberlanjutan terpadu.


Kesimpulan

GHG Protocol dengan pendekatan Scope 1, 2, dan 3 adalah alat strategis untuk mengelola emisi karbon secara menyeluruh. Dalam konteks krisis iklim saat ini, organisasi tidak cukup hanya mengurangi emisi dari operasional langsung. Fokus harus diperluas ke seluruh rantai nilai, termasuk pemasok, mitra logistik, hingga pengguna akhir.

Dengan pelaporan yang transparan dan strategi yang berani, perusahaan tidak hanya berkontribusi pada solusi iklim global, tetapi juga memperkuat posisi mereka di pasar yang semakin menuntut keberlanjutan.

Share to:

Get In Touch

+6221 2212 9136

info.batsinternationalgroup@gmail.com

Follow Us

image-responsive

Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1 Level3 Suite 304, SCBD Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53. Jakarta Selatan 12190

+6221 2212 9136

+6281 6110 5174

info@sustainabilityassurer.bats-consulting.com

sustainabilityassurer.bats-consulting.com

Flickr Photos

© Bats Consulting