Dalam beberapa tahun
terakhir, pelaporan keberlanjutan telah menjadi semakin penting bagi perusahaan
global, terutama dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan tekanan dari
berbagai pemangku kepentingan tentang isu-isu keberlanjutan. Sebagai tanggapan,
Federasi Akuntan Internasional (IFAC) mengembangkan konsep Building Blocks
dalam Pelaporan Keberlanjutan Korporasi. Pendekatan ini dirancang untuk
meningkatkan konsistensi, keterbandingan, dan kepercayaan informasi
keberlanjutan yang dilaporkan oleh perusahaan, serta untuk memfasilitasi
pelaporan yang lebih efektif kepada pemangku kepentingan dan investor.
Pendekatan ini terdiri dari
dua blok utama, yang secara kolektif memberikan fondasi untuk pelaporan yang
menyeluruh tentang dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan perusahaan. Kedua
blok ini – Blok 1: Informasi Keberlanjutan yang Berfokus pada Investor dan
Nilai Perusahaan dan Blok 2: Pelaporan Keberlanjutan yang Berfokus pada
Multi-Pemangku Kepentingan – memungkinkan perusahaan untuk memenuhi
berbagai kebutuhan informasi bagi pemangku kepentingan yang berbeda.
Blok 1: Informasi
Keberlanjutan yang Berfokus pada Investor dan Nilai Perusahaan
Blok pertama dalam
pendekatan building blocks menitikberatkan pada pelaporan yang relevan bagi
investor dan pemangku kepentingan terkait nilai perusahaan, baik dalam jangka
pendek, menengah, maupun panjang. Tujuan utama dari Blok 1 ini adalah untuk
memberikan pemahaman menyeluruh mengenai bagaimana faktor keberlanjutan
tertentu dapat mempengaruhi nilai perusahaan dan dampak ekonomi jangka panjang.
Beberapa elemen utama dalam blok ini adalah sebagai berikut:
1. Tata
Kelola, Strategi, dan Manajemen Risiko: Blok ini mencakup
informasi kualitatif tentang tata kelola, strategi, dan manajemen risiko
terkait faktor keberlanjutan yang material. Dengan menyediakan informasi ini,
perusahaan dapat memberikan gambaran kepada investor tentang langkah-langkah
yang diambil untuk mengelola risiko keberlanjutan, seperti perubahan iklim dan
kelangkaan sumber daya, yang dapat memengaruhi kinerja keuangan di masa depan.
2. Target
Kinerja dan Metrik Kuantitatif: Selain informasi
kualitatif, Blok 1 juga mencakup target kinerja dan metrik kuantitatif yang
menunjukkan seberapa baik perusahaan mengelola isu keberlanjutan. Metrik ini
bisa bersifat lintas industri, seperti yang dikembangkan oleh World Economic
Forum (WEF) dalam core metrics, atau spesifik industri seperti standar
yang dikeluarkan oleh Sustainability Accounting Standards Board (SASB). Data
kuantitatif ini memungkinkan investor untuk membuat perbandingan antar
perusahaan dan menilai efektivitas strategi keberlanjutan dalam konteks
industri terkait.
3. Penerapan
Standar Internasional oleh IFRS dan ISSB: Salah satu upaya utama
dalam Blok 1 adalah untuk menetapkan baseline standar keberlanjutan global yang
dapat diandalkan, yang diatur oleh Dewan Standar Keberlanjutan Internasional
(ISSB) di bawah IFRS. Standar ini diharapkan dapat menjadi patokan global untuk
pelaporan keberlanjutan yang dapat diaudit, sehingga informasi yang dilaporkan
lebih konsisten dan dapat dipercaya oleh investor dan pasar modal.
Dengan adanya standar dalam
Blok 1 ini, perusahaan dapat lebih mudah menyajikan data yang relevan untuk
mendukung pengambilan keputusan investor serta untuk memenuhi ekspektasi nilai
perusahaan yang berkelanjutan.
Blok 2: Pelaporan
Keberlanjutan yang Berfokus pada Multi-Pemangku Kepentingan
Jika Blok 1 berfokus pada
informasi yang penting bagi investor, Blok 2 mencakup aspek
keberlanjutan yang lebih luas, terutama yang berkaitan dengan dampak perusahaan
terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. Blok ini memungkinkan perusahaan
untuk memberikan informasi yang lebih komprehensif kepada pemangku kepentingan yang
mungkin memiliki kepentingan yang berbeda dari investor, termasuk komunitas
lokal, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah. Elemen utama dalam Blok 2
adalah:
1. Pengaruh
terhadap Pembangunan Berkelanjutan: Informasi yang dilaporkan
dalam Blok 2 dapat meliputi indikator-indikator yang mendukung pencapaian
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals - SDGs) dan
tujuan kebijakan publik lainnya. Misalnya, dalam konteks Uni Eropa, perusahaan
mungkin perlu melaporkan sejalan dengan European Green Deal, yang
bertujuan untuk mencapai keberlanjutan di Eropa. Informasi ini memungkinkan
pemangku kepentingan untuk memahami kontribusi perusahaan terhadap tujuan
pembangunan berkelanjutan secara lebih holistik.
2. Standar
Pelaporan Global dan Lokal: Pelaporan dalam Blok 2 sering kali
menggunakan standar yang sudah diakui secara global, seperti inisiatif
pelaporan dari Global Reporting Initiative (GRI), serta pedoman yang lebih
khusus sesuai yurisdiksi atau negara. Standar pelaporan ini memungkinkan
perusahaan untuk menyesuaikan informasi keberlanjutan dengan konteks kebijakan
dan kebutuhan lokal.
3. Pengaruh
terhadap Ekonomi, Lingkungan, dan Masyarakat: Berbeda dari Blok
1 yang berfokus pada nilai perusahaan, Blok 2 mencakup pelaporan mengenai
pengaruh perusahaan yang lebih luas pada lingkungan dan masyarakat. Informasi
ini mencakup, misalnya, dampak sosial dari kegiatan operasional, emisi karbon
yang tidak sepenuhnya diukur melalui nilai perusahaan, serta kontribusi ekonomi
perusahaan bagi masyarakat setempat. Dengan menyediakan informasi ini,
perusahaan membantu pemangku kepentingan untuk memahami dampak jangka panjang
dari operasi perusahaan dalam konteks yang lebih luas.
Interoperabilitas antara
Blok 1 dan Blok 2
Salah satu keunggulan dari
pendekatan building blocks ini adalah interoperabilitas antara kedua
blok tersebut. IFAC merancang pendekatan ini untuk memungkinkan perusahaan
mengumpulkan informasi keberlanjutan yang sama untuk memenuhi kebutuhan
pelaporan baik di Blok 1 maupun Blok 2. Dengan demikian, perusahaan dapat
menghindari duplikasi data dan meningkatkan efisiensi pelaporan. Informasi yang
dikumpulkan sekali dapat digunakan untuk berbagai tujuan pelaporan, sehingga
memudahkan perusahaan untuk menavigasi berbagai standar dan memenuhi kebutuhan
pelaporan yang berbeda secara efektif.
Perspektif yang Fleksibel
dalam Pelaporan Keberlanjutan
Dalam praktiknya,
pendekatan building blocks memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan pelaporan
sesuai dengan perubahan kebutuhan dan preferensi pemangku kepentingan.
Faktor-faktor seperti tekanan dari pemangku kepentingan, regulasi yang
berkembang, dan preferensi investor yang berubah dapat mempengaruhi jenis
pelaporan yang paling relevan bagi perusahaan.
Sebagai contoh, emisi
karbon awalnya mungkin hanya menjadi perhatian masyarakat umum, namun
seiring waktu, investor mulai mempertimbangkan aspek transisi menuju net zero
dalam keputusan alokasi aset mereka. Ketika dampak finansial dari isu
lingkungan ini menjadi lebih nyata, emisi karbon akhirnya perlu dilaporkan
dalam laporan keuangan di bawah standar GAAP (Generally Accepted Accounting
Principles). Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk menyajikan informasi
yang komprehensif yang mencerminkan kondisi dan prioritas terkini.
Mengintegrasikan Pelaporan
Keberlanjutan dan Pelaporan Keuangan untuk Menunjang Nilai Jangka Panjang
Dengan mengadopsi
pendekatan building blocks, IFAC berupaya mendorong perusahaan untuk
mengintegrasikan pelaporan keberlanjutan dengan pelaporan keuangan tradisional.
Dengan demikian, pelaporan yang dihasilkan tidak hanya fokus pada kinerja
jangka pendek, tetapi juga mencerminkan nilai jangka panjang perusahaan bagi
para investor dan pemangku kepentingan lainnya. Integrasi ini menciptakan sistem
pelaporan perusahaan yang lebih komprehensif, memungkinkan para pemangku
kepentingan untuk memahami keseluruhan gambaran nilai perusahaan, tidak hanya
dari sudut pandang keuangan tetapi juga dalam konteks keberlanjutan.
Kesimpulan
Pendekatan building blocks
yang dirancang oleh IFAC memberikan panduan yang kuat bagi perusahaan untuk
menyusun pelaporan keberlanjutan yang sesuai dengan standar global dan lokal.
Dengan memisahkan pelaporan keberlanjutan ke dalam dua blok yang fokus pada
kebutuhan investor dan multi-pemangku kepentingan, IFAC berharap dapat
memperkuat kepercayaan, transparansi, dan relevansi informasi keberlanjutan
yang disampaikan. Melalui pendekatan ini, perusahaan diharapkan dapat mencapai
keseimbangan antara nilai ekonomi dan kontribusi mereka terhadap tujuan
keberlanjutan global, memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat
luas.
Dengan adopsi yang semakin
luas, pendekatan ini tidak hanya akan membantu perusahaan meningkatkan
akuntabilitas mereka, tetapi juga membangun kepercayaan dengan pemangku
kepentingan dan membantu menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan di masa
depan.
Perusahaan yang berkomitmen
untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tidak hanya berkontribusi pada
pelestarian lingkungan, tetapi juga membangun reputasi sebagai perusahaan yang
bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ini pada akhirnya dapat meningkatkan
kepercayaan konsumen, memperkuat posisi kompetitif, dan memberikan manfaat
jangka panjang bagi perusahaan.