Kelangsungan Bisnis Dalam Perubahan Iklim: Ancaman Atau Peluang Baru?

Feb 04, 2025 02:52:50 pm
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting

Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan global yang memiliki dampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor bisnis dan ekonomi. Fenomena ini tidak hanya membawa ancaman berupa bencana alam, gangguan infrastruktur, serta ketidakstabilan ekonomi, tetapi juga membuka peluang bagi industri tertentu untuk berkembang. Beberapa sektor, seperti pertanian dan energi terbarukan, mulai beradaptasi dengan perubahan kondisi iklim dan berhasil meningkatkan produktivitas dan daya saing. Oleh karena itu, pemahaman mengenai dampak perubahan iklim terhadap dunia usaha menjadi penting agar pelaku bisnis dapat mengantisipasi risiko sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul.


Membuka Peluang

Perubahan iklim tidak hanya menjadi tantangan global, tetapi juga membuka peluang besar bagi bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan. Semakin banyak perusahaan-perusahaan yang mencari solusi ramah lingkungan untuk mengurangi jejak karbon mereka. Dengan meningkatnya kesadaran konsumen dan regulasi ketat terhadap perubahan iklim, bisnis yang berinovasi di bidang ini dapat menarik klien-klien besar.

(Sumber: Avani Eco)


Sebagai contoh adalah Avani Eco, sebuah perusahaan start-up berbasis sains yang berfokus menciptakan produk bioplastik. Bioplastik ini merupakan produk ramah lingkungan yang mana terbuat dari bahan-bahan alami seperti pati singkong dan turunan minyak nabati. Avani Eco datang membawa solusi terhadap perubahan iklim dengan menawarkan produk yang ramah bagi lingkungan. Melalui wawancara yang dilakukan oleh Utomo (2017), diperoleh pemahaman bahwa pemilihan pati singkong dikarenakan Indonesia sebagai penghasil singkong yang cukup besar, mencapai 24–25 juta ton dalam setahun. Namun, pati singkong jarang diperhatikan karena biasanya dipakai untuk pakan ternak, yang kemudian dimanfaatkan juga sebagai bahan dasar dalam pembuatan bioplastik ini. Avani Eco kemudian menjual produknya di Bali karena potensi Warga Negara Asing (WNA) di sana yang lebih mengapresiasi produk ramah lingkungan. Klien yang menggunakan produk dari Avani Eco ini mencakup perusahaan-perusahaan yang memiliki nama besar, seperti Ritz Carlton, Alila, hingga Marriott. Selain itu, Avani Eco berhasil melakukan ekspor atas produknya dan menjadikan ekspor tersebut sebagai sumber pendapatan, mencakup hingga 80% dari penjualan yang dilakukannya.

Contoh lainnya adalah kendaraan listrik (electric vehicle/EV), yang mana menjadi semakin menarik karena menghasilkan lebih sedikit emisi GRK dan polusi selama masa pakainya jika dibandingkan dengan mobil berbahan bakar bensin dan diesel. Hal ini menciptakan peluang besar bagi industri otomotif dan energi untuk berinvestasi dalam solusi yang lebih ramah lingkungan. Dengan semakin ketatnya regulasi global mengenai emisi karbon, permintaan terhadap kendaraan yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca akan terus meningkat, membuka pasar yang lebih luas bagi produsen EV serta penyedia teknologi baterai dan infrastruktur pendukung.

Selain mengurangi emisi gas rumah kaca, kendaraan listrik juga berkontribusi dalam menekan polusi suara, yang menjadi permasalahan utama di kota-kota besar. Tidak seperti kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel yang menghasilkan kebisingan dari mesin dan knalpot, EV beroperasi dengan lebih senyap, menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tenang dan nyaman. Peluang bisnis di sektor ini tidak hanya terbatas pada manufaktur kendaraan listrik, tetapi juga mencakup pengembangan ekosistem transportasi berbasis EV, seperti layanan ride-sharing, penyewaan kendaraan listrik, serta perumusan kebijakan perkotaan yang mendukung zona bebas polusi suara.

Peningkatan efisiensi energi yang ditawarkan oleh kendaraan listrik juga membuka jalan bagi inovasi dan pertumbuhan bisnis di sektor energi terbarukan. Dengan efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional, EV dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang pada akhirnya menekan biaya operasional bagi konsumen maupun perusahaan. Ini memberikan peluang bagi bisnis yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur pengisian daya, produksi baterai yang lebih efisien, hingga pengembangan sistem manajemen energi berbasis digital yang dapat meningkatkan kinerja kendaraan listrik dalam jangka panjang.

(Sumber: Wuling)


Di Indonesia sendiri, kinerja penjualan EV semakin meningkat. Selama periode Januari–Agustus 2024, penjualan EV pada kendaraan mobil listrik mencatatkan penjualan mencapai 23.045 unit, lebih tinggi 177,32% year-on-year, jika dibandingkan dengan penjualan pada tahun 2023 dalam periode yang sama. Hal ini didukung oleh peran pemerintah yang memberikan sejumlah insentif bagi pembeli, seperti kebijakan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 1% maupun pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) impor completely built up (CBU) (Gaikindo, 2024).


Tak Lepas dari Ancaman

Di sisi lain, sejumlah ancaman akibat perubahan iklim tak terelakkan bagi sebuah bisnis. Seperti penelitian yang dilakukan Ulfa (2018), perubahan iklim telah memberikan dampak besar terhadap ekonomi masyarakat nelayan di Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Desa ini merupakan wilayah pesisir yang mayoritas penduduknya bergantung pada sektor perikanan, sehingga ketidakpastian cuaca, kenaikan permukaan air laut, dan berkurangnya jumlah tangkapan ikan semakin memperburuk kondisi ekonomi mereka. Ketidakpastian musim penangkapan ikan akibat perubahan iklim menyebabkan nelayan kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk melaut, yang pada akhirnya berdampak pada jumlah hasil tangkapan dan kestabilan pendapatan mereka.

(Sumber: Diane Durongpisitkul/Stocksy)


Selain itu, distribusi ikan yang berpindah ke lokasi yang lebih jauh akibat perubahan suhu air laut membuat nelayan harus meningkatkan jarak tempuh untuk menangkap ikan, yang berimplikasi pada meningkatnya biaya operasional, terutama dalam hal konsumsi bahan bakar dan perawatan kapal. Kondisi ini tidak selalu diimbangi dengan peningkatan hasil tangkapan, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran nelayan. Lebih parah lagi, musim paceklik yang semakin panjang akibat cuaca ekstrem menyebabkan banyak nelayan kehilangan sumber penghasilan utama mereka dalam waktu yang cukup lama. Situasi ini memaksa mereka berhutang kepada tengkulak atau pemodal lokal dengan bunga tinggi, yang pada akhirnya menjerumuskan mereka dalam siklus kemiskinan yang sulit diputus.

Keterbatasan akses terhadap program bantuan pemerintah dan permodalan formal juga memperburuk kondisi ekonomi nelayan. Mayoritas nelayan tidak memiliki jaminan atau dokumen yang dibutuhkan untuk mengakses pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya, sehingga mereka tetap bergantung pada sistem keuangan informal yang kurang menguntungkan.

Perubahan iklim juga mempengaruhi stabilitas pasar keuangan dan meningkatkan risiko kredit bagi perusahaan. Studi yang dilakukan oleh Ho, Yan, & Kong (2024) menunjukkan bahwa peningkatan risiko akibat perubahan iklim menyebabkan kenaikan credit spread obligasi korporasi di Tiongkok. Hal ini terjadi karena pasar obligasi sekunder semakin menyadari potensi kerugian akibat gangguan ekonomi yang disebabkan oleh perubahan iklim. Selain itu, peningkatan volatilitas laba perusahaan serta menurunnya sentimen investor turut berkontribusi terhadap peningkatan risiko gagal bayar, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan credit spread obligasi. Dengan demikian, perubahan iklim bukan hanya berdampak pada sektor fisik, tetapi juga mempengaruhi stabilitas keuangan perusahaan dan kepercayaan investor.

(Sumber: Franklin Peña Gutierrez/Pexels)


Selain risiko finansial, perubahan iklim juga memberikan tekanan ekonomi melalui meningkatnya frekuensi bencana alam seperti banjir dan badai. Kerusakan pada infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya memerlukan biaya perbaikan yang besar, sehingga membebani anggaran publik dan sektor swasta. Selain itu, meningkatnya kemungkinan terjadinya bencana alam juga menyebabkan lonjakan biaya asuransi bagi bisnis dan properti, yang berdampak pada operasional perusahaan (Cho, 2019). Gangguan dalam rantai pasokan global akibat cuaca ekstrem juga meningkatkan biaya logistik dan memperlambat distribusi barang, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dan daya saing perusahaan di pasar global.

(Sumber: sergeycauselove/Freepik)


Perubahan iklim juga membawa ancaman bagi sektor pertanian, terutama dalam produksi pangan. Penelitian yang dilakukan oleh Malau dkk. (2023) menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi di Indonesia terdampak oleh fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO), yang ditunjukkan dengan korelasi negatif antara Oceanic Nino Index (ONI) dan curah hujan. Regresi panel statis mengindikasikan bahwa ENSO memiliki dampak signifikan terhadap produksi padi dan kedelai, dengan El Nino menyebabkan penurunan curah hujan yang berdampak pada berkurangnya hasil panen secara drastis. Sementara itu, La Nina yang meningkatkan curah hujan lebih banyak memberikan pengaruh terhadap produksi kedelai. Secara umum, dampak El Nino terhadap produksi tanaman pangan jauh lebih besar dibandingkan La Nina, sehingga ketergantungan terhadap pola cuaca menjadi tantangan utama dalam sektor pertanian di Indonesia.



PELUANG

ANCAMAN

Aspek Logistik dan Rantai Nilai

Mengadopsi rantai pasok yang lebih berkelanjutan, seperti penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dan optimasi rute logistik untuk mengurangi emisi karbon

Perubahan cuaca ekstrem (banjir, badai, kebakaran hutan) dapat menghambat distribusi dan mengganggu operasional logistik

Penggunaan energi terbarukan dalam produksi dan distribusi dapat mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang

Regulasi terkait emisi karbon dapat meningkatkan biaya bahan bakar dan pengiriman barang

Meningkatkan daya saing dengan memilih pemasok yang telah menerapkan prinsip keberlanjutan

Produksi bahan baku tertentu (seperti hasil pertanian) dapat terpengaruh oleh perubahan pola cuaca

Aspek Pasar

Konsumen semakin sadar akan keberlanjutan, sehingga ada peluang untuk produk organik, daur ulang, dan hemat energi

Bisnis yang tidak beradaptasi dengan tren hijau dapat kehilangan pangsa pasar

Insentif pajak dan subsidi yang dilakukan oleh pemerintah bagi bisnis yang mengadopsi praktik ramah lingkungan

Perusahaan harus berinvestasi lebih besar dalam pemenuhan standar lingkungan yang lebih ketat

Merek yang menerapkan strategi ramah lingkungan dapat menarik lebih banyak pelanggan dan meningkatkan loyalitas konsumen

Perusahaan yang tidak memiliki strategi hijau dapat menghadapi risiko penurunan nilai saham dan hilangnya investor

Aspek Keuangan dan Investasi

Banyak bank dan investor mulai menawarkan pendanaan khusus untuk bisnis yang menerapkan praktik ramah lingkungan

Perusahaan yang masih bergantung pada energi fosil atau industri polutif dapat kehilangan daya tarik bagi investor

Perusahaan yang mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi energi dapat menghemat biaya dalam jangka panjang

Bisnis harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk memenuhi standar lingkungan yang semakin tinggi

Aspek Regulasi dan Kepatuhan

Banyak proyek pemerintah dan swasta mulai memprioritaskan bisnis yang sudah menerapkan kebijakan hijau

Regulasi yang semakin ketat bisa berujung pada penalti bagi perusahaan yang tidak mematuhi standar keberlanjutan

Share to:

Get In Touch

+6221 2212 9136

info.batsinternationalgroup@gmail.com

Follow Us

image-responsive

Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1 Level3 Suite 304, SCBD Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53. Jakarta Selatan 12190

+6221 2212 9136

+6281 6110 5174

info@sustainabilityassurer.bats-consulting.com

sustainabilityassurer.bats-consulting.com

Flickr Photos

© Bats Consulting