Tantangan Penerapan sirkular ekonomi terhadap Protokol Gas Rumah Kaca (GHG)

Feb 07, 2024 08:42:44 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting

Dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), protokol pengukuran GRK menjadi landasan utama bagi banyak organisasi. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa fokus pada pengukuran karbon dapat mendorong pemborosan sumber daya, terutama ketika mempertimbangkan sirkular ekonomi.

Protokol utama yang digunakan dalam pengukuran "ilmiah" GRK adalah GHG Protocol yang disusun oleh World Resources Institute (WRI) dan World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). Namun, ada kelemahan dalam protokol ini, yakni ketidakmampuannya dalam menangani emisi yang terkandung dalam produk dan layanan, serta tidak mempertimbangkan dengan baik sirkular ekonomi.

Dalam sebuah makalah yang disampaikan di Konferensi Manajemen Siklus Hidup 2023, disebutkan bahwa protokol ini cenderung mendorong praktik rantai pasok "ambil-buat-buang" yang tidak ramah lingkungan. Para penulis, Astrid Wynne dari TechBuyer dan Rich Kenny dari Interact, mengungkapkan bahwa protokol ini tidak memperlakukan karbon yang terkandung dan sirkular ekonomi dengan benar.

"Ada dasar yang kuat dari metodologi berbasis ilmiah untuk menunjukkan biaya dan pengurangan karbon melalui Protokol Gas Rumah Kaca (GHG Protocol), dan ini diadopsi oleh legislator yang memerintahkan perusahaan melaporkan jejak karbon mereka," kata Wynne dan Kenny. Namun, mereka menyoroti bahwa tidak ada metrik global yang setara untuk mengukur kemajuan sirkular ekonomi.

Ketidakmampuan protokol ini dalam mengakui nilai sirkular ekonomi dapat mendorong perusahaan untuk tetap pada praktik "ambil-buat-buang" tanpa adanya insentif untuk mengadopsi sirkular ekonomi. Para penulis bahkan menyatakan bahwa kesenjangan dalam GHG Protocol dapat menghambat pergeseran masyarakat menuju sirkular ekonomi sebagai cara untuk mengurangi emisi karbon.

Sebagai solusi sementara, Kenny menyarankan bahwa karbon harus diatribusikan ke masa pakai tetap suatu aset dan dikurangkan proporsional setiap tahunnya. Hal ini dapat mendorong perusahaan untuk mempertahankan server lebih lama dan mendukung praktik sirkular ekonomi. Selain itu, penulis menyarankan bahwa industri-industri tertentu, seperti plastik, elektronik, dan fashion, dapat bekerja sama untuk membuat metodologi pelaporan standar yang mengakui nilai memperpanjang masa pakai produk dan mendaur ulang.

Meskipun ada tantangan dalam merampingkan GHG Protocol, Kenny optimis bahwa sistem ini "hanya perlu sedikit penyempurnaan agar orang lebih mudah melihat manfaat sirkular ekonomi." Sementara itu, perusahaan yang berupaya memperpanjang umur produk mereka untuk kebaikan lingkungan mungkin harus bersiap menghadapi penurunan dalam progres net-zero "resmi" mereka, namun pada akhirnya, mereka akan menjadi warga global yang lebih baik.

Share to:

Get In Touch

+6221 2212 9136

info.batsinternationalgroup@gmail.com

Follow Us

image-responsive

Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1 Level3 Suite 304, SCBD Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53. Jakarta Selatan 12190

+6221 2212 9136

+6281 6110 5174

info@sustainabilityassurer.bats-consulting.com

sustainabilityassurer.bats-consulting.com

Flickr Photos

© Bats Consulting