Nov 15, 2023 02:18:11 pm
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Pada pertemuan di PBB, Uni
Eropa dan Inggris disalahkan karena mencoba menghentikan usulan yang ingin
memberi suara lebih banyak kepada negara-negara berkembang dalam pembicaraan
pajak internasional.
Negara-negara sedang
berdiskusi di PBB tentang rencana untuk memberikan peran lebih besar kepada PBB
dalam pembicaraan pajak global — ide ini didorong oleh negara-negara dengan
penghasilan rendah dan menengah.
Sejak puluhan tahun, OECD
telah menjadi tempat negara-negara berbicara tentang pajak internasional,
tetapi beberapa negara berkembang merasa sistem ini tidak mencerminkan
kepentingan mereka.
Tahun lalu, sekelompok 54
negara Afrika yang frustrasi dengan OECD berhasil membawa resolusi di PBB.
Resolusi ini menyarankan agar Sekretaris Jenderal PBB membuat laporan untuk
memperkuat kerjasama pajak internasional, termasuk memberikan peran lebih besar
kepada PBB.
Meskipun laporan ini
dihasilkan, perwakilan Uni Eropa dan Inggris dikabarkan menentang semua opsi
yang diajukan.
Negosiator dari negara
berkembang mengatakan, "Mereka tidak ingin membawa masalah pajak ke PBB.
Mereka mencoba menghentikan proses ini."
Negara-negara berkembang,
seperti Nigeria, Ghana, India, dan Brasil, ingin peran PBB dalam pembicaraan
pajak bersifat mengikat hukum.
Namun, Uni Eropa khawatir
bahwa PBB akan merusak prosedur yang sudah ada di OECD dan membuat sistem pajak
internasional menjadi kacau. Pada 2021, OECD mencoba mengatasi penghindaran
pajak perusahaan, tetapi implementasinya terhambat oleh keterlambatan.
Pada bulan September,
menteri keuangan Uni Eropa mengatakan negara-negara anggota Uni Eropa
"bisa mempertimbangkan bekerja di PBB pada agenda multilateral
sukarela." Meskipun begitu, perwakilan Uni Eropa nampaknya tidak mendukung
opsi sukarela yang diusulkan oleh laporan Sekretaris Jenderal PBB.
Sebaliknya, mereka
mendukung pembentukan kelompok kerja baru yang akan mengusulkan opsi alternatif
bagi peran PBB. Kelompok ini akan membahas opsi baru tersebut di Sidang Umum
PBB ke-80 pada September 2025.
Negosiator dari negara
berkembang menyebut saran ini "tidak produktif dan bertujuan untuk menunda
keputusan."
Juru bicara pemerintah
Inggris mengatakan bahwa Inggris telah "lama bekerja sama dengan mitra
internasional dalam masalah pajak" dan memiliki "rekam jejak
kuat" dalam bekerja dengan negara-negara berkembang.
Meskipun ada perbedaan
pendapat, kedua belah pihak mengklaim bahwa mereka bernegosiasi dengan niat
baik.