
(Perahu nelayan melintas di dekat proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di Cilincing, Jakarta, Kamis (15/3) (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Perubahan iklim dan kenaikan muka air laut telah menjadi ancaman serius bagi wilayah pesisir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Fenomena ini dipicu oleh pemanasan global yang menyebabkan pencairan es di kutub serta ekspansi termal air laut. Akibatnya, banyak daerah pesisir menghadapi tantangan besar, termasuk abrasi, banjir bandang, dan hilangnya lahan produktif. Masalah ini tidak hanya berdampak pada ekosistem laut dan pesisir, tetapi juga pada kehidupan jutaan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian mereka pada sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata.
Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, berbagai strategi telah dikembangkan, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur pertahanan pesisir seperti Giant Sea Wall (GSW). Pendekatan ini merupakan contoh dari technology-based solution, yaitu solusi yang mengandalkan infrastruktur dan teknologi modern untuk mengatasi tantangan lingkungan. Struktur ini dirancang untuk menghalangi gelombang laut dan mencegah air laut masuk ke daratan, memberikan perlindungan instan bagi daerah pesisir yang rentan terhadap kenaikan muka air laut.
Di sisi lain, pendekatan berbasis alam seperti rehabilitasi mangrove semakin mendapatkan perhatian karena kemampuannya dalam memberikan perlindungan alami terhadap erosi dan banjir. Pendekatan ini dikenal sebagai nature-based solution (NbS), yaitu solusi yang memanfaatkan ekosistem alami untuk mengatasi tantangan lingkungan secara berkelanjutan. Mangrove tidak hanya berperan sebagai benteng alami yang meredam gelombang dan mencegah abrasi, tetapi juga berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati dan mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon dalam jumlah besar.
Giant Sea Wall
Giant Sea Wall (GSW) merupakan struktur buatan yang berfungsi sebagai penghalang fisik terhadap gelombang laut dan kenaikan muka air laut. Keunggulan utama dari GSW meliputi:
Perlindungan instan terhadap banjir rob dan kenaikan muka air laut, terutama di daerah perkotaan yang padat penduduk.
Dapat dikombinasikan dengan sistem drainase perkotaan untuk mengurangi risiko genangan akibat limpasan air hujan dan pasang laut.
Memungkinkan pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekonomi di daerah pesisir, karena memberikan keamanan yang lebih besar terhadap air laut.
Meminimalkan dampak gelombang besar, seperti yang disebabkan oleh badai dan tsunami, dengan menyerap atau menghalangi kekuatan ombak sebelum mencapai daratan.
Akan tetapi, dikarenakan sifatnya yang buatan, maka terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
Efek samping terhadap pola arus laut, yang dapat mempercepat erosi di wilayah lain dan menginterupsi pemindahan sedimen dari inland ke shore serta berdampak pada properti setempat.
Struktur dan lokasi seawall, dimana apabila seawall ini ditempatkan dimana ombak dapat melampaui struktur, maka akan menghasilkan erosi pasir dan tanah, sehingga melemahkan seawall
Biaya pembangunan dan pemeliharaan yang sangat tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, tembok laut dapat menjadi tempat akumulasi polutan, seperti limbah industri, limbah domestik, dan sampah plastik. Polutan ini dapat mencemari air laut dan mengganggu kesehatan biota laut. Selain itu, pengelolaan yang buruk juga dapat menyebabkan penurunan kualitas air karena kurangnya sirkulasi dan pertukaran air.
Ketergantungan pada rekayasa struktural, yang rentan terhadap kegagalan jika tidak dirawat dengan baik.
Kerusakan habitat biota laut juga dapat terjadi akibat pembangunan tembok laut. Struktur tembok laut dapat merusak terumbu karang, padang lamun, dan habitat lainnya yang penting bagi kehidupan laut. Hilangnya habitat ini dapat menyebabkan penurunan populasi ikan, krustasea, moluska, dan organisme laut lainnya.
Dampak terhadap masyarakat pesisir, terutama nelayan. Pembangunan Giant Sea Wall seringkali berdampak pada masyarakat pesisir, terutama nelayan, karena dapat mengganggu akses ke laut dan mengubah ekosistem perikanan. Selain itu, biaya tinggi untuk konstruksi dan pemeliharaan dapat menjadi beban finansial bagi pemerintah dan masyarakat sekitar.
Mangrove
Mangrove merupakan solusi berbasis alam yang berfungsi sebagai benteng alami terhadap gelombang laut dan abrasi. Keuntungan utama dari hutan mangrove meliputi:
Mampu meredam energi gelombang hingga 70-90%, sehingga mengurangi dampak abrasi dan banjir bandang.
Meningkatkan biodiversitas, karena menjadi habitat bagi berbagai spesies laut dan burung migran.
Beradaptasi secara alami dengan perubahan iklim, sehingga tidak membutuhkan biaya pemeliharaan tinggi.
Penyerapan karbon dimana hutan mangrove juga mampu menyerap karbon dalam jumlah besar, sehingga membantu mitigasi perubahan iklim. Mangrove juga meningkatkan keanekaragaman hayati dengan menyediakan tempat berkembang biak bagi berbagai spesies ikan dan udang.
Peluang ekowisata dan peningkatan hasil perikanan.
Namun, pemanfaatan mangrove sebagai pelindung pesisir memiliki tantangan tersendiri, seperti:
Butuh waktu bertahun-tahun untuk tumbuh secara optimal.
Rentan terhadap deforestasi akibat aktivitas manusia.
Kurang efektif dalam menghadapi gelombang ekstrim jika tidak dikombinasikan dengan metode lain.
Penelitian dan Studi Kasus
Beberapa penelitian telah membandingkan efektivitas Giant Sea Wall dan mangrove dalam melindungi pesisir dari abrasi dan banjir bandang. Sebuah studi oleh WWF Indonesia menunjukkan bahwa kombinasi antara sea wall dan penanaman mangrove dapat memberikan perlindungan pesisir yang lebih optimal dibandingkan jika hanya mengandalkan satu metode saja. WWF menekankan bahwa mangrove memiliki keunggulan dalam menyerap energi gelombang secara alami, sementara struktur keras seperti GSW dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap banjir ekstrim yang terjadi dalam jangka pendek.
Proyek Giant Sea Wall di Teluk Jakarta
Di Teluk Jakarta, Dewan Riset Daerah Jakarta melakukan penelitian tentang efektivitas pembangunan Giant Sea Wall dalam melindungi lingkungan pesisir di Teluk Jakarta. Studi ini menemukan bahwa meskipun proyek ini dapat mengurangi risiko banjir rob, ada dampak ekologis yang cukup besar terhadap ekosistem laut di sekitarnya. Salah satu temuan utama adalah perubahan pola arus laut yang dapat mengganggu sistem sedimentasi alami, menyebabkan erosi di beberapa wilayah, dan meningkatkan risiko akumulasi limbah di sekitar tanggul.

(Prakiraan pola arus permukaan di Teluk Jakarta pasca konstruksi Great Sea Wall dengan konfigurasi satu pintu air dan dampaknya (Poernomo, dkk. 2014). Konstruksi berdasarkan RT/RW Pemda DKI Jakarta 2030 (Perda No.1/2012).)
Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa Giant Sea Wall dapat mengurangi kadar oksigen dalam air akibat berkurangnya sirkulasi alami. Hal ini berdampak langsung pada populasi ikan dan biota laut lainnya, yang dapat mengganggu mata pencaharian nelayan setempat. Oleh karena itu, Dewan Riset Daerah Jakarta merekomendasikan pendekatan yang lebih berkelanjutan, termasuk pengintegrasian infrastruktur keras dengan solusi berbasis ekosistem seperti restorasi mangrove dan pembangunan tanggul ramah lingkungan.
Giant Sea Wall di Jepang
Jepang adalah salah satu negara yang telah menerapkan Giant Sea Wall secara luas, terutama setelah tsunami 2011 yang menghancurkan banyak daerah pesisir. Pemerintah Jepang membangun sekitar 395 km tembok laut dengan biaya sekitar 1,35 triliun yen. Struktur ini dirancang untuk melindungi daerah pesisir dari gelombang besar di masa depan.

(Pembangunan tanggul laut untuk menggantikan pemecah gelombang yang terendam tsunami. Sekitar 245 mil (395 km) tanggul telah dibangun dengan biaya 1,35 triliun yen (£9,1 miliar))
Meskipun memberikan perlindungan fisik, keberadaan tembok laut ini juga membawa berbagai konsekuensi. Beberapa masyarakat pesisir mengungkapkan bahwa tembok laut yang tinggi telah membuat mereka merasa terisolasi, seperti hidup dalam penjara beton. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa tembok laut memberi rasa aman yang palsu, sehingga mengurangi kesiapsiagaan masyarakat terhadap tsunami. Studi juga menunjukkan bahwa pembangunan tembok laut telah mengubah ekosistem pantai dan mempengaruhi kehidupan biota laut di sekitarnya.
________________
Selain itu, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change membandingkan efektivitas dan biaya antara infrastruktur keras dan solusi berbasis alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa restorasi mangrove lebih cost-effective dalam jangka panjang dibandingkan pembangunan struktur keras seperti sea wall. Mangrove tidak hanya melindungi garis pantai, tetapi juga memiliki manfaat tambahan dalam menyerap karbon dan meningkatkan hasil perikanan lokal. Studi ini juga menyoroti bahwa komunitas pesisir yang memiliki hutan mangrove yang sehat cenderung lebih tahan terhadap dampak bencana dibandingkan daerah yang hanya mengandalkan infrastruktur buatan.
"Room for the River" di Belanda sebagai pendekatan Hybrid dalam Perlindungan Pesisir
"Room for the River" di Belanda adalah proyek inovatif yang menggabungkan technology-based solutions dengan nature-based solutions untuk mengatasi risiko banjir. Program ini dikembangkan sebagai respons terhadap banjir besar pada tahun 1995, yang menunjukkan bahwa pendekatan tradisional seperti peninggian tanggul tidak cukup efektif. Pendekatan hybrid ini bertujuan untuk memberikan lebih banyak ruang bagi air dengan cara membangun dataran banjir, kanal, waduk alami (nature-based solutions), serta menggunakan infrastruktur keras seperti tanggul yang direlokasi (technology-based solutions).

(Room for the River | Nijmegen, The Netherlands)
Proyek ini diterapkan di lebih dari 30 lokasi di Belanda, dengan contoh sukses di Nijmegen, Kampen, dan Ijssel Delta. Di Nijmegen, misalnya, dibuat kanal tambahan untuk menampung kelebihan air sebagai bentuk technology-based solution, sementara di Kampen, bendungan fleksibel digunakan bersama dengan restorasi lahan basah, yang merupakan bagian dari nature-based solutions. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko banjir tetapi juga membantu memulihkan keanekaragaman hayati dan menciptakan ruang hijau yang bermanfaat bagi masyarakat.
Manfaat utama dari proyek ini meliputi peningkatan perlindungan terhadap banjir, restorasi ekosistem, dan dampak sosial-ekonomi seperti peningkatan kualitas hidup serta potensi wisata ekologi. Konsep "Room for the River" memiliki kemiripan dengan pendekatan Hybrid Giant Sea Wall dengan Mangrove, di mana kombinasi antara technology-based solutions (seperti tanggul laut) dan nature-based solutions (seperti penanaman mangrove) digunakan untuk mitigasi bencana pesisir. Dengan keberhasilannya, proyek ini dapat menjadi inspirasi bagi negara lain, termasuk Indonesia, dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan perlindungan pantai yang lebih berkelanjutan.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Meskipun kedua metode ini memiliki tujuan yang sama, yaitu melindungi daerah pesisir dari dampak negatif perubahan iklim, pendekatan yang digunakan sangat berbeda. Giant Sea Wall sebagai solusi berbasis teknologi menawarkan perlindungan instan, tetapi membutuhkan biaya besar dan dapat menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Sementara itu, mangrove sebagai solusi berbasis alam menawarkan perlindungan yang lebih berkelanjutan dengan manfaat ekologis yang luas, tetapi memerlukan waktu lama untuk berkembang dan tidak selalu efektif menghadapi gelombang besar dalam jangka pendek.
Dengan adanya perbedaan mendasar antara solusi berbasis teknologi dan solusi berbasis alam, perlu dipertimbangkan pendekatan yang paling sesuai berdasarkan kondisi lingkungan, kebutuhan masyarakat, serta keseimbangan antara manfaat ekonomi dan ekologis.
Baik Giant Sea Wall maupun mangrove memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam banyak kasus, solusi terbaik adalah menggabungkan keduanya dalam pendekatan hibrida, di mana GSW dapat memberikan perlindungan segera terhadap banjir bandang, sementara mangrove bertindak sebagai solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Dengan strategi yang tepat, perlindungan pesisir dapat dilakukan secara efektif dan berkelanjutan tanpa mengorbankan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.