Aug 14, 2023 10:27:14 am
Irma Nuranisa, S. Ak, Ak - BATS Consulting
Direktur Lingkungan Hidup
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas) Medrilzam memperkirakan investasi hijau akan dapat menciptakan
jutaan lapangan pekerjaan per tahunnya di masa depan.
Medrilzam mengungkapkan
bahwa potensi lapangan kerja akan tercipta sebanyak 1,66 juta dari investasi
hijau per tahun pada 2045.
Di samping itu, dari 2025
hingga 2045 dibutuhkan jumlah investasi rata-rata sebesar Rp2,377 triliun
rupiah per tahunnya.
Hal tersebut diungkapkannya
dalam seminar bertajuk “Bridging the Cross-Sectoral Gap in Pursuing More
Ambitious Climate Targets in Indonesia”, Kamis (10/8/2023).
“Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut diperlukan kebijakan yang mengarah pada penguatan pembiayaan inovatis
hijau, sepertu blended finance, impact investment, carbon tax, dan
lainnya,” ungkapnya.
Beliau juga menuturkan
bahwa intervensi ekonomi hijau dengan pembangunan rendah karbon akan
meningkatkan daya dukung lingkungan dan berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca
(GRK) seiring mendorong pertumbuhan PDB rata-rata Indonesia tahun 2022-2045 harus
mencapai 6 sampai 7 persen.
Analis Kebijakan Ahli Muda Pusat
Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal,
Kementerian Keuangan Ferike Indah Arika menekankan kebutuhan akan pembiayaan
inovatif selain APBN untuk upaya mitigasi dan adaptasi iklim.
Ia mengungkapkan bahwa akumulasi
pendanaan untuk mitigasu perubahan iklim yang diperlukan dalam rentang tahun
2018-2030 mencapai Rp4.002 triliun, jumlah ini masih jauh lebih kecil dari pada
kebutuhan investasi untuk kebijakan ekonomi hijau.
“Ketimpangan kebutuhan
pendanaan yang besar ini, tentu saja tidak bisa hanya dipenuhi oleh APBN yang
terbatas”, ungkap Ferika.
Analis Kebijakan Ahli Madya
Direktorat Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Data Mineral
Nurcahyanto juga mengatakan bahwa sektor energi berupaya memangkas emisi GRK.
Mengakhiri operasional PLTU
batubara adalah menjadi salah satu upaya untuk mendorong percepatan pengurangan
emisi GRK dari sektor energi.
“Rencananya ada 4,8
gigawatt (GW) PLTU batubara yang dipensiunkan dini pada 2030”, kata Nurcahyanto.
Rancangan roadmap
untuk pengakhiran dini operasional PLTU pada 2030 tersebut telah dirampungkan
dan disampaikan pada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves),
Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, dan PT PLN untuk mendapatkan tanggapan.