Nov 05, 2024 10:31:46 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Perubahan iklim telah
menjadi ancaman serius yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di Bumi,
mulai dari kesehatan manusia, keanekaragaman hayati, hingga stabilitas ekonomi
global. Kenaikan suhu global dan peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering
terjadi adalah tanda-tanda nyata dari dampak perubahan iklim yang tak bisa
diabaikan. Untuk mengatasi tantangan ini, dunia telah bersatu dalam sebuah misi
ambisius: mencapai net zero emission atau emisi nol bersih. Misi ini tidak
hanya sekadar upaya menjaga lingkungan, tetapi juga tentang menyelamatkan masa
depan manusia dari ancaman iklim yang semakin tidak menentu.
Peningkatan Suhu Global dan
Urgensi Aksi Iklim
Data terbaru pada tahun
2023 menunjukkan bahwa suhu rata-rata global telah meningkat sebesar 1,5
derajat Celsius dibandingkan dengan masa praindustri. Kenaikan ini terjadi
lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, mempercepat ancaman yang
ditimbulkan oleh perubahan iklim. Beberapa ilmuwan sebelumnya memperkirakan
bahwa kenaikan suhu ini akan terjadi pada pertengahan abad ini, yaitu sekitar
tahun 2050. Namun, pada tahun 2019, prediksi tersebut dimajukan menjadi tahun
2042. Hal ini memperlihatkan bahwa kita kehabisan waktu, dan aksi nyata untuk
menekan laju pemanasan global semakin mendesak. Tanpa adanya langkah-langkah
konkret, suhu Bumi akan terus meningkat, menyebabkan gangguan yang lebih luas
pada ekosistem dan memperparah bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan
badai.
Langkah Nyata Global: Paris
Agreement sebagai Landasan Utama
Sebagai respons terhadap
urgensi perubahan iklim, dunia menyepakati Paris Agreement atau
Perjanjian Paris pada tahun 2015. Perjanjian ini merupakan tonggak penting yang
melibatkan 195 negara, yang sepakat untuk menahan laju pemanasan global agar
tidak melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Paris Agreement
mengharuskan setiap negara untuk menyusun kontribusi nasional yang dikenal
sebagai Nationally Determined Contribution (NDC), yaitu rencana aksi
spesifik masing-masing negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Kesepakatan ini adalah langkah nyata pertama dan landasan penting bagi upaya
global untuk menekan pemanasan global. Dengan adanya Paris Agreement, dunia
berkomitmen untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui kolaborasi dan
upaya bersama.
Komitmen dari Negara-negara
Besar: G20 Leaders Summit
Di samping Paris Agreement,
langkah nyata lainnya datang dari forum G20 Leaders Summit. G20 adalah
forum yang terdiri dari negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia, yang
merupakan kontributor utama emisi karbon global. Dalam pertemuan ini, anggota
G20 berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada pertengahan abad ke-21,
yaitu sekitar tahun 2050-2060. Komitmen ini sangat penting karena negara-negara
G20 memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan global dan
teknologi. Melalui langkah nyata ini, negara-negara besar menunjukkan bahwa
mereka mengambil tanggung jawab dalam mengurangi emisi dan menjaga stabilitas
iklim, yang juga diharapkan dapat mendorong negara lain untuk mengambil
tindakan serupa.
Kompetisi Menuju Net Zero
Emission: Peran Negara dan Sektor Bisnis
Langkah-langkah nyata untuk
mencapai net zero emission tidak hanya datang dari negara-negara maju, tetapi
juga dari berbagai negara di seluruh dunia yang menetapkan target ambisius.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, yang sebelumnya
dikenal sebagai penghasil emisi terbesar, kini menetapkan target net zero
sebagai bentuk komitmen mereka untuk menurunkan emisi. Target ini menunjukkan
adanya perubahan arah kebijakan besar di berbagai negara yang mulai
memprioritaskan kelestarian lingkungan.
Selain negara-negara,
sektor bisnis juga berperan aktif dalam kompetisi menuju net zero emission.
Banyak perusahaan besar yang menyadari bahwa kontribusi mereka dalam
pengurangan emisi sangat diperlukan. Berbagai organisasi, instansi, dan
perusahaan mulai menerapkan teknologi rendah karbon, menggunakan energi
terbarukan, serta mengurangi jejak karbon dalam proses produksi dan operasional
mereka. Langkah nyata dari sektor bisnis ini memberikan kontribusi signifikan
dalam mengurangi emisi global, karena sektor industri merupakan salah satu
sumber utama emisi karbon.
Langkah Nyata Uni Eropa:
Carbon Border Adjustment Mechanism
Uni Eropa telah menunjukkan
langkah nyata yang inovatif dalam mendukung penurunan emisi global melalui
penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism pada tahun 2023. Kebijakan
ini menetapkan pajak karbon yang dikenakan atas produk impor yang dihasilkan di
luar Uni Eropa dengan tingkat emisi tinggi. Tujuan utama dari kebijakan ini
adalah untuk mencegah terjadinya carbon leakage atau pergeseran produksi
industri beremisi tinggi ke negara-negara dengan regulasi lingkungan yang lebih
longgar. Dengan menerapkan mekanisme ini, Uni Eropa mengirimkan pesan kuat
kepada produsen di luar wilayahnya bahwa produk dengan jejak karbon tinggi akan
dikenakan biaya tambahan saat memasuki pasar Eropa. Langkah nyata ini mendorong
perusahaan global untuk beralih ke praktik produksi yang lebih ramah lingkungan
demi menghindari tarif tinggi.
Langkah Nyata Indonesia:
Folu Net Sink 2030
Indonesia, sebagai salah
satu negara dengan hutan tropis terluas di dunia, juga ikut ambil bagian dalam
upaya global menuju net zero emission. Pada tahun 2024, Indonesia mengeluarkan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) No. 12/2024 yang
menargetkan pencapaian net zero emission pada tahun 2060. Salah satu langkah
nyata yang dicanangkan Indonesia adalah program Folu Net Sink 2030, yang
berfokus pada sektor kehutanan. Folu Net Sink bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan hutan dalam menyerap karbon melalui konservasi hutan dan reforestasi.
Sebagai salah satu penyerap karbon alami terbesar, hutan Indonesia memiliki
potensi besar dalam mengurangi emisi global. Dengan langkah ini, Indonesia
menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga iklim dan menjadi bagian dari solusi
perubahan iklim global.
Road Map Dunia Menuju Net
Zero Emission: Langkah-langkah Terstruktur untuk Masa Depan
Mencapai target net zero
emission tidak bisa dilakukan dalam sekejap; diperlukan peta jalan yang jelas
untuk menuju target ini. Berikut ini adalah alur utama yang telah disusun
sebagai panduan langkah-langkah nyata menuju net zero emission:
1. 2015:
195 negara menandatangani Paris Agreement, sepakat untuk menahan kenaikan suhu
global hingga tidak melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.
2. 2015
– 2017: Penyusunan draft awal kontribusi nasional atau
Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai komitmen masing-masing negara
dalam mengurangi emisi.
3. 2020
– 2021: Peningkatan target NDC dan percepatan transisi ke
ekonomi hijau oleh negara-negara anggota.
4. 2030:
Negara-negara diharapkan dapat mengurangi emisi jangka menengah sebesar 45%
dibandingkan dengan tingkat emisi pada 2010 untuk menjaga suhu global.
5. 2050
– 2060: Target global untuk mencapai net zero emission, di
mana seluruh emisi yang dihasilkan akan seimbang dengan jumlah emisi yang
diserap.
Tantangan dan Harapan di
Masa Depan
Meskipun berbagai langkah
nyata telah diambil, perjalanan menuju net zero emission masih penuh tantangan.
Dibutuhkan investasi besar untuk teknologi rendah karbon, dukungan dari
masyarakat, serta perubahan kebijakan yang mungkin sulit bagi beberapa industri.
Selain itu, perbedaan kondisi ekonomi antarnegara juga menjadi kendala,
terutama bagi negara-negara berkembang yang membutuhkan bantuan finansial dan
teknologi dari negara maju untuk mempercepat transisi menuju ekonomi rendah
karbon.
Namun, harapan untuk masa
depan tetap kuat. Dengan kemajuan teknologi, kolaborasi internasional yang
semakin erat, serta kesadaran global yang meningkat, dunia memiliki peluang
untuk mengatasi tantangan ini. Langkah nyata seperti Paris Agreement, Carbon Border
Adjustment Mechanism, dan Folu Net Sink 2030 adalah bukti bahwa dunia serius
dalam menangani perubahan iklim.
Penutup: Menyongsong Masa
Depan yang Berkelanjutan
Upaya mencapai net zero
emission adalah langkah nyata yang dilakukan untuk memastikan bahwa Bumi tetap
layak huni bagi generasi mendatang. Kolaborasi global, inovasi teknologi, dan
komitmen dari berbagai pihak menjadi fondasi penting dalam menciptakan masa
depan yang berkelanjutan. Dengan kerja sama yang kuat, dunia memiliki
kesempatan untuk mengatasi perubahan iklim dan mewujudkan masa depan yang lebih
hijau dan stabil.