Nov 06, 2023 11:57:22 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Environmental, social, and
governance (ESG) adalah seperangkat standar yang digunakan oleh para investor
yang peduli akan keberlanjutan untuk menilai perilaku perusahaan dan menyaring
potensi investasi. ESG terdiri dari tiga pilar utama, yaitu lingkungan
(environmental), dampak sosial (social), dan tata kelola perusahaan
(governance).
Kenapa ESG Penting?
ESG memiliki peran penting
dalam menyaring perusahaan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Ini juga
mendorong perusahaan untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab. ESG membantu
mengawasi perusahaan agar tidak terlibat dalam praktik-praktik yang berisiko
dan tidak etis.
Asal Usul ESG
Konsep ESG pertama kali
muncul pada tahun 1960-an, ketika kesadaran tentang investasi yang bertanggung
jawab secara sosial semakin meningkat. Hal ini dipicu oleh dua faktor utama:
degradasi lingkungan yang semakin parah dan kesadaran akan hak-hak sosial.
Pada periode berikutnya,
muncul gerakan-gerakan yang mendukung pembatasan emisi gas rumah kaca dan
mitigasi perubahan iklim. Dalam konteks ini, ESG mulai diterapkan dalam isu
bisnis.
Perkembangan ESG
Pada tahun 1992,
Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar Konferensi Bumi (Earth Summit) di Rio de
Janeiro, Brasil. Acara ini bertujuan untuk memperingati 20 tahun Konferensi
Lingkungan Pertama di Stockholm, Swedia pada tahun 1972. Konferensi ini menjadi
tonggak penting dalam mengatasi isu lingkungan.
Selanjutnya, Konferensi
Para Pihak (Conference of the Parties, COP) diadakan setiap tahun sejak 1995,
menjadi salah satu konferensi iklim terbesar di dunia. Gerakan ini juga
berkontribusi pada popularitas dan kerangka kerja ESG.
Pada tahun 1997, disepakati
Protokol Kyoto yang mengharuskan negara-negara untuk mengurangi emisi gas rumah
kaca untuk mengatasi pemanasan global.
Pada tahun 2006, PBB
memperkenalkan Prinsip Investasi Bertanggung Jawab (PRI), yang bertujuan untuk
memahami implikasi investasi dari faktor-faktor ESG dan mempromosikan investasi
berkelanjutan.
Tumpahan Minyak dan
Akuntabilitas
Pada tahun 2010, tumpahan
minyak BP di Teluk Meksiko, yang menjadi tumpahan minyak laut terbesar dalam
sejarah industri perminyakan, mengguncang dunia. Insiden ini menimbulkan
pertanyaan serius tentang perlunya menerapkan kerangka kerja ESG untuk perusahaan.
Masyarakat yang terkena
dampak tumpahan minyak merasa bahwa tidak ada pertanggungjawaban dari BP, dan
tidak ada metrik ESG yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut beroperasi
sesuai dengan standar etika internal. Hal ini memicu pendirian Sustainability
Accounting Standards Board (SASB) pada tahun 2011 untuk menyusun informasi
keuangan yang berkelanjutan.
SDGs dan ESG
Tahun 2015 menjadi tahun
penting dalam perkembangan ESG. PBB menyepakati Sustainable Development Goals
(SDGs) yang berisi 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Isu-isu ESG menjadi
bagian utama dalam pembahasan SDGs.
Pada tahun yang sama,
Perjanjian Paris diratifikasi untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5
derajat Celsius. Setelah perjalanan panjang sejak tahun 1992, desakan ini
memunculkan kerangka kerja ESG.
Kerangka Kerja ESG
memungkinkan perusahaan untuk lebih akuntabel dan transparan terhadap pemangku
kepentingan. Ada tiga pilar utama dalam ESG: lingkungan, sosial, dan tata
kelola perusahaan. Pilar ini menilai bagaimana perusahaan menjaga lingkungan,
mengelola hubungan dengan berbagai pihak, dan tata kelola yang baik.