Oct 12, 2023 10:04:13 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Kantor Staf Presiden (KSP)
dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menegaskan komitmennya dalam mengawasi
pelaksanaan arahan Presiden Joko Widodo terkait perdagangan karbon di
Indonesia. Langkah-langkah pengawasan ini akan dilakukan melalui kerjasama aktif
dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Komitmen ini terungkap
dalam pertemuan antara Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, dengan Ketua Dewan
Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Mahendra Siregar, di Gedung Bina Graha,
Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada tanggal 11 Oktober 2023.
Sebelumnya, Presiden Joko
Widodo telah mengeluarkan beberapa arahan saat peluncuran Bursa Karbon
Indonesia pada tanggal 26 September 2023. Pertama, Presiden Jokowi menginginkan
agar standar karbon internasional dijadikan sebagai acuan dalam perdagangan
karbon di Indonesia, serta memanfaatkan teknologi untuk transaksi yang efektif
dan efisien.
Kedua, Presiden Jokowi juga
menekankan pentingnya menetapkan target dan tenggat waktu (timeline) dalam
perdagangan karbon, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar internasional.
Indonesia diharapkan segera menjadi pemain aktif dalam pasar karbon global.
Selain itu, Presiden juga
meminta agar pasar karbon sukarela diatur dan difasilitasi sesuai praktik
internasional, dengan memastikan bahwa standar internasional tersebut tidak
menghambat pencapaian target nasional terkait kontribusi yang ditentukan secara
nasional (Nationally Determined Contribution/NDC) Indonesia.
KSP dan OJK telah sepakat
untuk mengawasi dan mengambil langkah-langkah tindak lanjut terhadap kelima
arahan ini, dengan memastikan kerjasama yang baik dengan kementerian dan
lembaga terkait. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa perdagangan karbon di
Indonesia berjalan sesuai aturan dan memberikan manfaat ekonomi yang
berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Selama periode perdagangan
perdana hingga 10 Oktober 2023, telah terjadi perdagangan karbon dalam bentuk
Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) seri Indonesia Technology
Based Solution sebanyak 459.967 ton CO2e (setara karbon dioksida) dengan total
nilai Rp 29,2 miliar. Harga rata-rata per unit karbon Rp 63.502. Pembeli
berasal dari berbagai sektor, termasuk industri, pasar modal, dan perbankan.
Menurut Direktur
Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring Pelaporan Verifikasi, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hari Wibowo, ke depannya akan ada peningkatan
pasokan SPE-GRK dari sektor energi terbarukan sekitar 900.000 ton CO2e. OJK
juga sedang mempertimbangkan potensi pembelian unit karbon oleh bank-bank dalam
upaya mencapai target nol emisi di dalam lembaganya. Selain itu, ada minat dari
pembeli internasional untuk membeli unit karbon dari Indonesia.
Semua langkah ini
memerlukan kerjasama yang erat dari berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Hal ini merupakan langkah strategis dalam menerapkan prinsip keuangan
berkelanjutan untuk mengatasi isu-isu terkait perubahan iklim. Dengan komitmen
yang kuat dari KSP dan OJK, diharapkan perdagangan karbon di Indonesia akan
memberikan kontribusi positif dalam upaya global untuk mengatasi perubahan
iklim.