Jun 24, 2025 01:34:52 pm
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Lanskap Risiko yang Berubah: Mengapa CRMS Menjadi Agenda Utama?
Perubahan iklim telah berevolusi dari sekadar isu lingkungan menjadi salah satu pendorong utama risiko finansial global. Bagi para pemimpin bisnis, ini menandai pergeseran paradigma fundamental. Mengelola risiko iklim bukan lagi hanya tentang tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan sebuah keharusan strategis untuk memastikan kelangsungan dan ketahanan bisnis. Kegagalan dalam mengelola risiko ini dapat berdampak langsung pada valuasi aset, biaya modal, dan stabilitas keuangan jangka panjang.
Secara global, kesepakatan seperti Paris Agreement dan meningkatnya tuntutan investor untuk transparansi telah mendorong lahirnya berbagai kerangka kerja pelaporan. Di Indonesia, negara yang secara geografis sangat rentan terhadap dampak fisik perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem , urgensi ini terasa semakin nyata. Menjawab tekanan ganda dari alam dan pasar modal internasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah tegas dengan memperkenalkan panduan Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS). Kerangka kerja ini tidak dirancang sebagai beban kepatuhan semata, tetapi sebagai alat strategis bagi perusahaan, khususnya di sektor perbankan, untuk membangun ketahanan, mengelola risiko, dan bahkan mengidentifikasi peluang bisnis baru di tengah transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Membedah Kerangka Kerja CRMS: Fondasi Tata Kelola dan Strategi
CRMS adalah kerangka kerja terintegrasi yang dirancang untuk menilai ketahanan model bisnis dan strategi perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Penting untuk dipahami bahwa kerangka kerja CRMS yang dikembangkan oleh OJK ini tidak berdiri sendiri. Panduan ini secara sadar mengadopsi dan mengadaptasi pilar-pilar dari Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD), yang telah menjadi standar emas global untuk pelaporan risiko iklim. Keselarasan ini memastikan bahwa kepatuhan terhadap regulasi OJK juga akan meningkatkan relevansi perusahaan di mata investor internasional yang semakin menjadikan TCFD sebagai acuan.
Kerangka kerja CRMS, sejalan dengan TCFD, dibangun di atas empat pilar utama. Dua pilar pertama, Tata Kelola dan Strategi, merupakan fondasi yang menentukan efektivitas implementasi secara keseluruhan.
Pilar 1: Tata Kelola (Governance)
Implementasi CRMS yang efektif harus dimulai dari "tone at the top". Tanpa kepemimpinan dan pengawasan yang kuat dari level tertinggi, upaya manajemen risiko iklim berisiko menjadi sekadar latihan kepatuhan. Pilar ini menekankan pentingnya struktur yang jelas untuk pengawasan dan pengelolaan risiko iklim.
Pengawasan Dewan Direksi dan Komisaris: Dewan memiliki tanggung jawab utama untuk mengawasi risiko dan peluang terkait iklim. Ini bukan tugas pasif; dewan harus secara aktif memastikan adanya kompetensi iklim di jajarannya, mengintegrasikan pertimbangan iklim ke dalam persetujuan strategi besar, dan memastikan manajemen memiliki sumber daya yang cukup untuk mengelola risiko ini. Praktik di perusahaan terkemuka seperti PLN dan MedcoEnergi menunjukkan pembentukan komite keberlanjutan atau manajemen risiko khusus yang melapor langsung kepada dewan, memastikan isu ini mendapat perhatian yang semestinya.
Peran Manajemen: Manajemen bertanggung jawab untuk operasionalisasi strategi iklim. Ini mencakup identifikasi, penilaian, dan mitigasi risiko iklim, serta melaporkan status dan kemajuannya secara berkala kepada dewan direksi.
Pilar 2: Strategi (Strategy)
Pilar ini menuntut perusahaan untuk melihat melampaui laporan kuartalan dan mempertimbangkan bagaimana perubahan iklim akan membentuk kembali lanskap bisnis mereka dalam jangka panjang.
Identifikasi Risiko dan Peluang: Perusahaan harus secara sistematis mengidentifikasi risiko dan peluang terkait iklim yang relevan dengan bisnis mereka dalam horizon waktu yang berbeda: jangka pendek (1-2 tahun), menengah (2-5 tahun), dan panjang (5-20 tahun). Dampak potensial dari risiko dan peluang ini terhadap model bisnis, strategi, dan perencanaan keuangan harus dianalisis dan diungkapkan secara transparan.
Ketahanan Strategi dan Analisis Skenario: Ini adalah elemen inti dari pilar strategi. Perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan asumsi "business-as-usual". Mereka diwajibkan untuk menguji ketahanan strategi mereka terhadap berbagai masa depan yang mungkin terjadi melalui analisis skenario. Ini melibatkan penilaian kinerja bisnis di bawah skenario iklim yang berbeda, termasuk skenario transisi yang teratur (misalnya, kenaikan suhu dibatasi hingga di bawah 2°C) dan skenario di mana risiko fisik menjadi dominan.
Dua Wajah Risiko Iklim: Memahami Ancaman Fisik dan Transisi
Untuk melakukan analisis yang komprehensif, CRMS dan TCFD mengkategorikan risiko iklim menjadi dua jenis utama yang saling terkait: risiko fisik dan risiko transisi.
Risiko Fisik (Physical Risks)
Risiko ini timbul dari dampak langsung perubahan iklim terhadap aset fisik dan operasional perusahaan.
Risiko Akut (Acute): Merujuk pada peristiwa cuaca ekstrem yang frekuensi dan intensitasnya meningkat. Bagi Indonesia, contohnya sangat nyata: banjir yang melumpuhkan pusat distribusi dan manufaktur, badai yang merusak infrastruktur pelabuhan, dan kebakaran hutan yang menghancurkan area perkebunan dan mengganggu operasional.
Risiko Kronis (Chronic): Merupakan hasil dari perubahan pola iklim jangka panjang. Contohnya termasuk kenaikan permukaan air laut yang mengancam aset-aset di wilayah pesisir, kenaikan suhu rata-rata yang dapat menurunkan produktivitas pertanian dan meningkatkan biaya pendinginan, serta perubahan pola curah hujan yang memicu kekeringan dan kelangkaan air.
Risiko Transisi (Transition Risks)
Risiko ini muncul dari proses penyesuaian masyarakat global menuju ekonomi rendah karbon.
Kebijakan dan Hukum: Ini adalah risiko yang paling sering menjadi perhatian. Pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sedang dan akan menerapkan kebijakan untuk mencapai target emisi. Contohnya termasuk pengenaan pajak karbon, penetapan standar emisi yang lebih ketat untuk industri dan kendaraan, dan kewajiban pelaporan ESG yang dapat meningkatkan biaya operasional. Risiko litigasi dari pihak yang merasa dirugikan oleh dampak iklim atau oleh perusahaan yang dianggap gagal melakukan transisi juga meningkat.
Teknologi: Inovasi dapat membuat teknologi yang ada menjadi usang. Pembangkit listrik tenaga batu bara, misalnya, menghadapi risiko disrupsi dari energi surya dan angin yang biayanya terus menurun. Perusahaan yang lambat beradaptasi dengan teknologi bersih dan efisien akan kehilangan daya saing.
Pasar: Preferensi investor dan konsumen bergeser. Investor semakin banyak yang melakukan divestasi dari aset bahan bakar fosil, sementara konsumen semakin memilih produk dan layanan dari perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan.
Reputasi: Citra perusahaan sebagai "pencemar" atau "lamban" dalam isu iklim dapat merusak hubungan dengan pelanggan, talenta terbaik, dan regulator, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan.
Di Indonesia, kedua jenis risiko ini tidak dapat dipandang terpisah. Keduanya menciptakan sebuah siklus yang saling memperkuat. Semakin sering dan parah dampak risiko fisik yang terjadi—misalnya banjir besar di kota-kota utama atau kekeringan panjang di sentra pertanian—semakin besar pula tekanan publik dan politik bagi pemerintah untuk mengambil tindakan tegas. Tindakan ini akan bermanifestasi sebagai kebijakan iklim yang lebih ketat, yang secara langsung meningkatkan risiko transisi bagi dunia usaha. Dengan demikian, perusahaan yang beroperasi di lokasi rawan bencana tidak hanya menghadapi ancaman langsung terhadap aset mereka, tetapi juga berada di garis depan untuk menghadapi regulasi yang lebih disruptif.
Kekuatan Analisis Skenario: Memetakan Masa Depan yang Tidak Pasti
Analisis skenario adalah jantung dari kerangka kerja CRMS dan TCFD. Ini bukan tentang meramal masa depan secara akurat, melainkan sebuah alat strategis untuk mengeksplorasi berbagai jalur masa depan yang masuk akal (plausible). Tujuannya adalah untuk menantang asumsi-asumsi yang mendasari strategi bisnis saat ini dan menguji seberapa tangguh model bisnis perusahaan dalam menghadapi kondisi yang sangat berbeda dari "business-as-usual". Dengan melakukan ini, perusahaan dapat mengidentifikasi titik-titik kerentanan tersembunyi dan mengembangkan opsi strategis yang lebih kuat.
Secara khusus untuk sektor perbankan di Indonesia, OJK telah mengadopsi skenario yang dikembangkan oleh Network for Greening the Financial System (NGFS) sebagai acuan wajib. Tiga skenario utama yang harus dianalisis adalah:
Net Zero 2050 (Orderly Transition): Skenario ini mengasumsikan adanya tindakan kebijakan iklim yang ambisius dan diterapkan sejak dini secara global untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050. Dalam skenario ini, risiko transisi (seperti harga karbon yang tinggi) muncul lebih awal dan signifikan, namun risiko fisik yang parah dapat dihindari.
Delayed Transition (Disorderly Transition): Skenario ini menggambarkan dunia di mana tindakan kebijakan iklim ditunda hingga dekade mendatang. Penundaan ini memaksa penerapan kebijakan yang jauh lebih keras dan mendadak di kemudian hari. Akibatnya, baik risiko transisi maupun risiko fisik menjadi sangat tinggi, menciptakan guncangan ekonomi yang disruptif.
Current Policies (Hot House World): Skenario ini mengasumsikan hanya kebijakan-kebijakan yang sudah ada saat ini yang diterapkan, tanpa ada ambisi tambahan. Akibatnya, risiko transisi relatif rendah, namun dunia akan menuju pemanasan global yang signifikan, yang memicu risiko fisik yang parah, meluas, dan tidak dapat dipulihkan.
Analisis terhadap skenario-skenario ini bukan hanya sekadar latihan manajemen risiko, tetapi juga merupakan alat untuk menemukan peluang strategis. Setiap skenario, terlepas dari tingkat risikonya, akan menciptakan pemenang dan pecundang baru. Skenario transisi yang teratur akan mendorong permintaan besar untuk teknologi bersih, energi terbarukan, dan jasa keuangan hijau. Bahkan dalam skenario Hot House World, akan muncul permintaan besar untuk solusi adaptasi seperti infrastruktur tahan iklim, teknologi pertanian yang tangguh, dan produk asuransi bencana. Perusahaan yang proaktif menggunakan analisis skenario untuk mengidentifikasi peluang-peluang ini akan memposisikan diri mereka untuk menjadi pemimpin di masa depan.
Skenario | Deskripsi Umum | Implikasi Risiko Transisi | Implikasi Risiko Fisik | Relevansi untuk Bisnis di Indonesia |
Net Zero 2050 (Orderly) | Transisi ambisius, terkoordinasi, dan dimulai sejak dini untuk membatasi pemanasan global. | Tinggi & Dini: Harga karbon meningkat secara signifikan, regulasi emisi ketat, disrupsi teknologi bersih terjadi cepat. | Rendah: Dampak fisik terburuk dapat dihindari karena mitigasi yang berhasil. | Peluang besar di sektor EBT, efisiensi energi, dan ekonomi sirkular. Tantangan bagi industri berbasis fosil untuk bertransformasi. |
Delayed Transition (Disorderly) | Tindakan kebijakan ditunda, memicu transisi yang mendadak, mahal, dan disruptif di kemudian hari. | Sangat Tinggi & Terlambat: Guncangan kebijakan yang tiba-tiba, volatilitas harga aset yang ekstrem, biaya transisi sangat mahal. | Tinggi: Dampak fisik mulai terasa signifikan sebelum transisi yang terlambat dapat memberikan efek. | Risiko ganda yang sangat tinggi. Perusahaan menghadapi guncangan kebijakan sekaligus kerusakan aset akibat dampak fisik yang sudah terjadi. |
Current Policies (Hot House) | Hanya kebijakan yang ada saat ini yang diimplementasikan, target iklim global tidak tercapai. | Rendah: Kebijakan iklim tidak banyak berubah dari kondisi saat ini. | Sangat Tinggi & Tidak Terkendali: Kenaikan suhu ekstrem, bencana alam yang sering dan parah, kerusakan infrastruktur masif. | Risiko operasional yang sangat besar, terutama bagi sektor pertanian, properti pesisir, dan infrastruktur. Rantai pasok sangat rentan terhadap gangguan. |
Konteks Indonesia: Membedah Panduan CRMS dari OJK
Di Indonesia, OJK menjadi motor penggerak utama dalam penerapan manajemen risiko iklim, khususnya bagi sektor jasa keuangan. Pada Maret 2024, OJK meluncurkan serangkaian panduan CRMS yang komprehensif, terdiri dari enam buku yang saling melengkapi dan menunjukkan keseriusan regulator dalam isu ini :
Buku 1: Panduan Umum CRMS
Buku 2: Panduan Teknis CRMS (termasuk Climate Risk Stress Testing - CRST)
Buku 3: Metode Perhitungan Emisi Karbon
Buku 4: Data Makroekonomi untuk Skenario
Buku 5: Data Bencana untuk Risiko Fisik
Buku 6: Kertas Kerja Pelaporan
Berdasarkan Surat Edaran OJK No. S-37/D.03/2024, kewajiban pelaporan ini menjadi sangat konkret dan mendesak. Semua bank umum diwajibkan untuk menyampaikan laporan CRMS perdana mereka paling lambat pada 31 Juli 2025.
Kewajiban ini memiliki cakupan yang berbeda tergantung pada kategori bank:
Kategori Bank (KBMI) | Kewajiban Cakupan Portofolio | Sektor Prioritas Utama (Contoh) | Tenggat Waktu Pelaporan |
KBMI 3 & 4 | 100% dari total kredit/pembiayaan. | Semua sektor relevan. | 31 Juli 2025 |
KBMI 1 & 2 | Minimal 50% dari total kredit/pembiayaan. | Pertanian, Kehutanan, & Perikanan; Pertambangan & Penggalian; Industri Pengolahan; Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas; Konstruksi; Kredit Konsumtif Properti. | 31 Juli 2025 |
Regulasi ini akan menciptakan efek domino yang signifikan di seluruh perekonomian. Untuk dapat melaporkan risiko dalam portofolio mereka, bank akan mulai menuntut data dan informasi terkait iklim dari para debitur mereka. Perusahaan di sektor riil, terutama yang termasuk dalam sektor prioritas OJK (seperti manufaktur, agribisnis, pertambangan, dan konstruksi), akan menghadapi tekanan baru untuk mengukur emisi gas rumah kaca (termasuk Scope 1, 2, dan 3) dan mengembangkan strategi mitigasi iklim yang kredibel sebagai syarat untuk mendapatkan atau mempertahankan fasilitas pembiayaan. Dengan demikian, regulasi perbankan ini secara efektif menjadi katalisator bagi penerapan praktik bisnis berkelanjutan di sektor riil secara lebih luas.
Dari Teori ke Praktik: Studi Kasus Implementasi di Indonesia
Implementasi CRMS dan TCFD bukan lagi sekadar wacana di Indonesia. Sejumlah perusahaan terkemuka telah secara proaktif mengadopsi kerangka kerja ini, tidak hanya untuk memenuhi tuntutan regulasi tetapi juga sebagai bagian dari strategi bisnis inti mereka. Mereka melihat ini sebagai cara untuk mengelola risiko secara lebih baik, menangkap peluang baru, dan mempertahankan keunggulan kompetitif.
Sektor Energi (PT MedcoEnergi & PLN): MedcoEnergi menunjukkan praktik terbaik dalam analisis skenario dengan menggunakan model yang diakui secara internasional seperti skenario RCP dari IPCC untuk risiko fisik dan skenario IEA untuk risiko transisi. Mereka juga mendefinisikan horizon waktu risiko secara jelas, yang menjadi dasar perencanaan strategis mereka. Sementara itu, PLN telah mengintegrasikan TCFD ke dalam strategi korporatnya, yang dibuktikan dengan adanya peta jalan Net Zero Emission (NZE) 2060 dan inisiatif dekarbonisasi konkret seperti program co-firing biomassa.
Sektor Perbankan (Bank BRI & CIMB Niaga): Bank BRI telah menerapkan manajemen risiko yang spesifik untuk sektor-sektor dengan paparan iklim tinggi, seperti kelapa sawit serta pulp dan kertas. Mereka juga menggunakan metrik kuantitatif seperti klasifikasi portofolio berdasarkan Taksonomi Hijau Indonesia (THI) untuk mengukur dan mengelola eksposur mereka. CIMB Niaga juga menunjukkan proaktivitas dengan terlibat dalam pilot project Climate Risk Stress Test (CRST) yang diinisiasi oleh OJK, sebuah langkah penting untuk membangun kapasitas teknis internal dalam analisis skenario iklim.
Studi kasus ini menjadi bukti bahwa implementasi CRMS yang canggih tidak hanya mungkin dilakukan di Indonesia, tetapi sudah menjadi kenyataan. Mereka menjadi tolok ukur dan studi kelayakan bagi perusahaan lain, menciptakan rasa urgensi sekaligus memberikan contoh nyata yang dapat diikuti.
Membangun Ketahanan Iklim Bersama BATS Consulting
Perjalanan menuju implementasi CRMS yang efektif penuh dengan tantangan. Perusahaan harus mampu menavigasi kompleksitas regulasi OJK, mengatasi kesenjangan data emisi yang andal, membangun kapasitas teknis untuk pemodelan skenario, dan yang terpenting, menerjemahkan hasil analisis menjadi keputusan strategis yang bernilai tambah.
Di sinilah BATS Consulting hadir sebagai mitra strategis Anda. Kami memahami lanskap regulasi dan tantangan unik yang dihadapi perusahaan di Indonesia. Dengan pendekatan end-to-end, kami membantu Anda mengubah kompleksitas risiko iklim menjadi keunggulan kompetitif yang tangguh.
Layanan kami meliputi:
Analisis Kesenjangan & Penyusunan Peta Jalan: Kami membantu Anda memetakan kondisi saat ini terhadap persyaratan OJK dan TCFD, lalu merancang peta jalan implementasi yang terstruktur dan realistis.
Identifikasi Risiko & Peluang Material: Melalui lokakarya terfasilitasi, kami membantu Anda mengidentifikasi risiko dan peluang iklim yang paling signifikan bagi model bisnis dan rantai nilai Anda.
Analisis Skenario & Stress Testing: Tim ahli kami menyediakan keahlian teknis untuk membangun model skenario yang kuat dan melakukan stress test sesuai panduan OJK, menerjemahkan dampak iklim ke dalam metrik finansial seperti Probability of Default (PD) dan Expected Credit Loss (ECL).
Perhitungan Emisi & Pelaporan: Kami memberikan panduan dalam perhitungan jejak karbon (Scope 1, 2, dan 3) dan membantu penyusunan laporan CRMS/TCFD yang berkualitas tinggi, transparan, dan siap untuk diaudit.
Advisory Strategis untuk Dewan & Manajemen: Kami tidak berhenti pada laporan. Kami membantu Anda menginterpretasikan hasil analisis untuk menginformasikan keputusan strategis, mulai dari alokasi modal hingga inovasi produk, memastikan CRMS menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan Anda.
_____________
Tentang BATS Consulting
BATS Consulting adalah firma konsultan strategis terkemuka di Indonesia yang menawarkan solusi menyeluruh di bidang akuntansi, perpajakan, keuangan, hukum, dan keberlanjutan (ESG). Dengan tim ahli berpengalaman internasional dan pendekatan berbasis data, BATS membantu klien dari berbagai sektor untuk mengoptimalkan kepatuhan, efisiensi bisnis, serta strategi pertumbuhan jangka panjang. Layanan unggulan kami meliputi transfer pricing, audit pajak, merger & akuisisi, hingga pengelolaan emisi karbon dan pasar kredit karbon, menjadikan BATS mitra yang terpercaya untuk kebutuhan bisnis modern.
Mengusung prinsip "global insight with local relevance", BATS Consulting tidak hanya memberikan solusi yang tepat sasaran, tetapi juga mampu menjawab tantangan regulasi lokal dengan standar internasional. Berlokasi di Jakarta, kami telah menjadi pilihan utama berbagai perusahaan nasional dan multinasional yang ingin meningkatkan daya saing mereka secara berkelanjutan. Apapun tantangan bisnis Anda, BATS hadir sebagai partner strategis yang tangguh dan adaptif untuk mengantarkan Anda pada kesuksesan.
Hubungi BATS Consulting:
Alamat: Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1 Level3 Suite 304, SCBD Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53. Jakarta Selatan 12190
Email: info@bats-consulting.com
Website: www.bats-consulting.com
Telepon/WhatsApp: +62 81 6110 5174