Aug 29, 2023 02:10:32 pm
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Sebuah penelitian yang
diterbitkan dalam jurnal Science mengungkapkan bahwa banyak perusahaan yang
mengandalkan kredit karbon sebagai alat untuk mendukung klaim mereka terkait
kepedulian lingkungan menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar dari kredit-kredit
tersebut tidak sesuai dengan tujuan awalnya.
Penelitian yang dilakukan
dengan menganalisis 18 proyek pengimbangan karbon di berbagai negara seperti
Peru, Kolombia, Kamboja, Tanzania, dan Republik Demokratik Kongo, menemukan
bahwa hanya 6% dari total potensi 89 juta kredit karbon yang benar-benar terkait
dengan pengurangan karbon melalui pelestarian hutan. Lebih dari 60 juta kredit
karbon berasal dari proyek-proyek yang tidak efektif dalam mengurangi
deforestasi.
"Anda sudah mencurigai
bahwa kredit karbon ini mengarah pada greenwashing," ujar Andreas
Kontoleon, penulis senior studi ini dan profesor ekonomi lingkungan dan
kebijakan publik di University of Cambridge. "Sekarang kita memiliki bukti
kuat dan kredibel bahwa program pengimbangan memiliki kelemahan yang perlu
diatasi."
Kredit karbon, yang
merupakan instrumen keuangan yang seharusnya merepresentasikan pengurangan satu
ton CO2 dari atmosfer, dihasilkan melalui proyek-proyek seperti pembangkit
listrik tenaga angin atau penanaman pohon. Namun, temuan penelitian ini mempertanyakan
klaim perusahaan-perusahaan yang mengandalkan kredit-kredit ini sebagai bagian
dari upaya mereka untuk menjadi ramah lingkungan.
Salah satu jenis proyek
yang disorot dalam penelitian ini adalah proyek perlindungan hutan, yang
dikenal sebagai REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest
Degradation). Proyek-proyek ini menghasilkan kredit-kredit karbon yang
mencerminkan karbon yang tidak akan dilepaskan melalui deforestasi. Namun,
studi ini menunjukkan bahwa banyak dari kredit-kredit tersebut tidak sesuai
dengan klaim pengurangan karbonnya.
Beberapa perusahaan,
seperti Eni SpA, TotalEnergies SE, British Airways Plc, dan Nestle Nespresso,
tercatat sebagai pembeli kredit-kredit dari proyek-proyek dengan kinerja
terburuk menurut data yang diterbitkan oleh Verra, pembuat standar untuk
sertifikasi kredit karbon. Eni, misalnya, membeli lebih dari 5 juta kredit
karbon dari proyek-proyek REDD+ yang tidak efektif.
Namun,
perusahaan-perusahaan ini memberikan tanggapan yang beragam terhadap temuan
penelitian. Eni menolak temuan tersebut dan menyatakan bahwa kredit-kredit
karbonnya tunduk pada standar pengendalian tertinggi. British Airways
berkomitmen untuk mengurangi emisi hingga nol netto pada tahun 2050 dengan
berbagai inisiatif iklim. Nestle Nespresso, sementara itu, telah berhenti
berinvestasi dalam pengimbangan karbon dan berusaha mencapai nol netto melalui
pengurangan emisi dan penghapusan karbon dalam rantai nilai mereka.
Terkait temuan ini,
terdapat keprihatinan tentang efektivitas sistem sertifikasi dan pengendalian
dalam program pengimbangan karbon. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah
kurangnya fleksibilitas dalam mengadaptasi perubahan tingkat deforestasi, yang bisa
memengaruhi hasil dari proyek-proyek ini.
Para peneliti
menggarisbawahi perlunya perbaikan dalam protokol dan transparansi dalam
industri kredit karbon. Reformasi diperlukan untuk memastikan bahwa
kredit-kredit karbon benar-benar mencapai tujuan pengurangan emisi dan
pelestarian lingkungan yang dijanjikan.
Dengan informasi yang
semakin jelas mengenai kinerja kredit karbon dalam mencapai tujuan lingkungan,
masyarakat dan pelaku industri diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam
mengevaluasi klaim dan tindakan yang berkaitan dengan keberlanjutan. Penelitian
ini menjadi pengingat penting bahwa langkah-langkah konkret dan transparan
diperlukan untuk mencapai perubahan nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem
planet kita.