Aug 30, 2023 02:41:02 pm
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting
Sebuah terobosan inovatif
dalam dunia perawatan kesehatan telah muncul dengan memanfaatkan kecerdasan
buatan (AI) untuk menghubungkan obat-obatan dengan pasien secara lebih
personal. Genetika+, sebuah perusahaan teknologi kesehatan asal Israel yang
didirikan pada tahun 2018, telah merintis penggunaan teknologi sel punca dan AI
untuk memastikan bahwa antidepresan yang diresepkan kepada pasien tidak hanya
efektif, tetapi juga bebas dari efek samping yang tidak diinginkan.
Pimpinan dari Genetika+,
Dr. Talia Cohen Solal, seorang ahli saraf dan salah satu pendiri perusahaan,
menjelaskan bahwa pendekatan inovatif ini memungkinkan identifikasi obat yang
paling sesuai untuk setiap pasien sejak tahap awal. "Kami dapat mengidentifikasi
obat yang tepat bagi setiap pasien dalam percobaan pertama," ungkapnya
sambil menjelaskan langkah-langkah kunci dalam pendekatan ini.
Teknologi yang digunakan
Genetika+ melibatkan pertumbuhan sel-sel otak manusia yang spesifik dalam cawan
petri menggunakan teknologi sel punca terkini. Sel-sel ini kemudian diuji
dengan berbagai antidepresan dan perubahan seluler yang disebut "biomarker"
dicatat. Informasi ini kemudian dianalisis oleh sistem AI, bersama dengan
riwayat medis dan data genetik pasien, untuk menentukan obat terbaik yang harus
diresepkan oleh dokter dan dosis yang optimal.
Meskipun teknologi ini saat
ini masih dalam tahap pengembangan, Genetika+ berencana untuk meluncurkannya
secara komersial pada tahun depan. Perusahaan ini telah mendapatkan dukungan
dana dari European Unions European Research Council dan European Innovation
Council, serta menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi untuk
mengembangkan obat-obatan presisi baru.
Dr. Heba Sailem, seorang
pakar AI dalam ilmu biomedis dan data di Kings College London, menyatakan
bahwa potensi AI dalam mengubah industri farmasi dunia senilai $1.4 triliun
pada tahun 2021 adalah sangat besar. Ia menggarisbawahi bahwa AI telah membantu
dalam berbagai aspek, mulai dari penemuan target gen potensial untuk penyakit
tertentu hingga peningkatan pengobatan pasien dengan memprediksi strategi
pengobatan terbaik dan menemukan biomarker untuk pengobatan pasien yang
dipersonalisasi.
Walau demikian, penggunaan
AI dalam sektor farmasi masih menemui tantangan. Calum Chace, seorang pakar AI
dan penulis buku-buku terkait AI, menjelaskan bahwa perusahaan farmasi adalah
entitas yang besar, dan perubahan signifikan dalam pendekatan riset dan
pengembangan dapat sulit diterapkan karena banyak pihak yang terlibat. Namun,
kemajuan yang dihasilkan dari penggabungan teknologi komputer dan biologi
memberi optimisme terhadap masa depan di mana AI dapat memainkan peran krusial
dalam penemuan obat-obatan yang lebih efektif dan efisien.
Seiring dengan semakin
berkembangnya teknologi ini, masih perlu dilakukan langkah-langkah ketat untuk
memastikan keakuratan dan keadilan dalam penggunaan AI dalam pengobatan pasien.
Dr. Sailem menegaskan bahwa model AI harus dipastikan tidak hanya belajar dari
jawaban yang benar, tetapi juga dengan alasan yang benar, untuk menghindari
bias yang tidak diinginkan dalam pengambilan keputusan pengobatan.
Dalam konteks yang lebih
luas, perusahaan lain juga sedang memanfaatkan potensi AI dalam industri
farmasi. Insilico Medicine, sebuah perusahaan berbasis di Hong Kong,
menggunakan AI untuk mempercepat penemuan obat. Mereka telah berhasil
mengidentifikasi obat yang ada yang dapat direkayasa ulang untuk tujuan baru
dan merancang obat baru untuk target penyakit yang sudah diketahui.
Ketika ditanya mengenai
dampaknya, Alex Zhavoronkov, salah satu pendiri dan chief executive dari
Insilico Medicine, menyatakan bahwa berkat AI, proses pengembangan obat yang
biasanya memakan waktu empat tahun dapat dipercepat menjadi kurang dari 18
bulan, dengan biaya yang lebih rendah. Dengan 31 obat dalam berbagai tahap
pengembangan, Insilico Medicine menjadi contoh nyata bagaimana AI telah
merevolusi proses penemuan obat.
Sementara dunia masih
berada di awal perjalanan ini, harapan terangkai pada masa depan di mana
kecerdasan buatan akan semakin berperan dalam membuka pintu menuju pengobatan
yang lebih tepat sasaran dan efektif bagi setiap individu.