Mengapa Emisi GRK Lingkup 3 Penting bagi Perusahaan Anda?

Jun 11, 2025 10:07:12 am
Manhajul Islam, S. Ak - BATS Consulting

I. Pendahuluan: Melampaui Batas Operasional Langsung

Dalam lanskap bisnis modern, fokus pada keberlanjutan dan dekarbonisasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis. Perusahaan dituntut untuk tidak hanya memaksimalkan keuntungan, tetapi juga mengelola dampak lingkungan mereka secara bertanggung jawab. Jejak karbon, yang mengukur total emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan, telah menjadi metrik kunci dalam penilaian kinerja lingkungan perusahaan. Mengurai cakupan emisi GRK merupakan langkah awal yang krusial dalam perjalanan menghitung sekaligus mengurangi emisi global dan memerangi perubahan iklim.  

Untuk memahami jejak karbon secara komprehensif, Protokol Gas Rumah Kaca (GHG Protocol) mengkategorikan emisi menjadi tiga lingkup berdasarkan sumber asalnya :  

  • Lingkup 1 (Emisi Langsung): Emisi yang dihasilkan langsung dari sumber di tempat yang dimiliki atau dikendalikan oleh perusahaan. Ini termasuk pembakaran bahan bakar fosil seperti gas alam, batu bara, dan minyak untuk menghasilkan panas dan daya pada peralatan stasioner (misalnya, pabrik membakar batu bara dalam boiler). Selain itu, emisi dari pembakaran bahan bakar untuk transportasi dalam kendaraan yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan (seperti mobil, truk, pesawat terbang, atau kapal) juga termasuk dalam lingkup ini. Emisi proses yang dilepaskan selama proses manufaktur atau reaksi kimia (misalnya, produksi semen) dan emisi fugitif dari kebocoran yang tidak disengaja (misalnya, kebocoran zat pendingin dari AC) juga merupakan bagian dari Lingkup 1.  

  • Lingkup 2 (Emisi Tidak Langsung – Energi): Emisi tidak langsung yang berasal dari energi yang dibeli dan dikonsumsi oleh perusahaan, seperti listrik, uap, pemanasan, atau pendinginan. Meskipun emisi ini terjadi di fasilitas penyedia energi (misalnya, PLN), penggunaannya dihitung sebagai bagian dari jejak karbon perusahaan.  

  • Lingkup 3 (Emisi Tidak Langsung – Rantai Nilai): Ini adalah semua emisi tidak langsung lainnya yang terjadi di sepanjang rantai nilai perusahaan, yang berarti siklus hidup penuh dari produksi hingga pengiriman hingga penggunaan dan pembuangan. Emisi ini tidak dihasilkan dari aset atau aktivitas yang dimiliki atau dikendalikan langsung oleh perusahaan, tetapi perusahaan mungkin memiliki pengaruh terhadap emisi yang dihasilkan berdasarkan konsumsi dan kemitraan mereka dengan bisnis lain. Emisi Lingkup 3 terbagi dalam dua kategori utama :  

    • Emisi Lingkup 3 Hulu: Berasal dari sumber-sumber yang terkait dengan kegiatan perusahaan tetapi tidak dimiliki atau dioperasikan secara langsung oleh perusahaan. Ini mencakup emisi yang dihasilkan dalam rantai pasokan sebelum produk mencapai perusahaan, seperti produksi bahan baku yang dibeli, transportasi barang oleh pihak ketiga, perjalanan bisnis karyawan, perjalanan karyawan, dan emisi dari barang modal (peralatan, kendaraan, atau bangunan).  

    • Emisi Lingkup 3 Hilir: Dihasilkan dari penggunaan produk atau layanan perusahaan. Contohnya termasuk emisi yang dihasilkan saat pelanggan mengendarai mobil yang dijual perusahaan, perlakuan akhir masa pakai produk yang dijual, dan emisi dari aset yang disewakan oleh perusahaan.  

Emisi Lingkup 3 seringkali merupakan bagian terbesar dari total jejak karbon perusahaan, namun juga yang paling menantang untuk dihitung dan dikurangi karena sifatnya yang tidak langsung dan melibatkan banyak pihak di luar kendali langsung perusahaan. Ini menunjukkan bahwa emisi Lingkup 3 mewakili "jejak karbon tersembunyi" perusahaan. Meskipun tidak dihasilkan langsung dari operasi perusahaan, emisi ini seringkali membentuk mayoritas dampak iklim perusahaan. Mengabaikan Lingkup 3 berarti perusahaan hanya melihat sebagian kecil dari gambaran keberlanjutan mereka. Oleh karena itu, pengungkapan dan pengelolaan Lingkup 3 menjadi krusial untuk pemahaman dampak yang komprehensif dan akuntabilitas yang sejati.  

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah perbandingan singkat ketiga lingkup emisi GRK:

Tabel 1: Perbandingan Emisi GRK Lingkup 1, 2, dan 3

Kategori Emisi

Definisi Singkat

Sumber/Asal Khas

Tingkat Kendali Perusahaan

Tingkat Tantangan Pengukuran/ Pengurangan

Proporsi Umum Jejak Karbon

Scope 1

Emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan.

Pembakaran bahan bakar di pabrik/kendaraan sendiri, proses manufaktur, kebocoran gas.

Langsung

Rendah hingga Sedang

Kecil hingga Sedang

Scope 2

Emisi tidak langsung dari energi yang dibeli dan dikonsumsi.

Pembelian listrik, uap, pemanasan, pendinginan.

Tidak Langsung (terkait pembelian)

Sedang

Sedang

Scope 3

Semua emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai (hulu & hilir).

Produksi bahan baku, transportasi pihak ketiga, penggunaan produk oleh pelanggan, perjalanan bisnis, pengelolaan limbah.

Tidak Langsung (melalui pengaruh)

Tinggi

Seringkali Terbesar


Tabel ini memberikan ringkasan visual yang cepat dan jelas mengenai perbedaan mendasar antara ketiga lingkup emisi GRK. Ini membantu pembaca untuk segera memahami definisi, sumber, tingkat kendali perusahaan, dan tantangan yang terkait dengan setiap lingkup. Secara khusus, tabel ini secara efektif menyoroti kompleksitas dan proporsi signifikan dari Lingkup 3, yang merupakan fokus utama artikel ini.

II. Mengapa Emisi Lingkup 3 Menjadi Krusial bagi Bisnis Anda?

Pengelolaan emisi Lingkup 3 bukan sekadar tuntutan kepatuhan regulasi, melainkan sebuah peluang strategis untuk mencapai keunggulan kompetitif. Dengan mengelola Lingkup 3 secara proaktif, perusahaan tidak hanya memenuhi ekspektasi yang berkembang tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan profitabilitas, efisiensi operasional, peningkatan reputasi merek, dan daya tarik investor, mengubah tantangan menjadi pendorong pertumbuhan bisnis.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa emisi Lingkup 3 menjadi sangat penting bagi perusahaan:

Representasi Mayoritas Jejak Karbon

Bagi banyak perusahaan, emisi Lingkup 3 jauh melampaui total emisi dari Lingkup 1 dan 2. Ini berarti bahwa upaya dekarbonisasi yang hanya berfokus pada operasi internal akan kurang efektif dalam mencapai target pengurangan emisi yang ambisius. Mengidentifikasi dan mengelola Lingkup 3 adalah kunci untuk mencapai pengurangan dampak iklim yang substansial. Sebagai contoh nyata, Musim Mas berhasil mengurangi intensitas emisi GRK hulu (bagian dari Lingkup 3) sebesar 53,4% dibandingkan tahun 2006, menunjukkan potensi besar di area ini. Pengelolaan Lingkup 3 yang efektif memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang dampak lingkungan mereka dan merancang strategi dekarbonisasi yang lebih komprehensif.  

Meningkatnya Ekspektasi Pemangku Kepentingan

Tekanan dari berbagai pemangku kepentingan terus meningkat. Investor semakin menggunakan kinerja ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai kriteria investasi, menuntut transparansi dan tindakan nyata terhadap perubahan iklim, termasuk pengelolaan emisi Lingkup 3. Pelanggan, karyawan, dan masyarakat juga semakin mengharapkan perusahaan untuk mengambil tindakan proaktif terhadap perubahan iklim. Perusahaan yang transparan dalam mengukur dan mengelola emisi mereka akan membangun reputasi yang lebih baik dan meningkatkan kepercayaan. Sebaliknya, kegagalan dalam mengukur Lingkup 3 dapat berpotensi merusak reputasi perusahaan di mata publik dan pemangku kepentingan. Pengungkapan emisi karbon secara keseluruhan dapat meningkatkan reputasi perusahaan dan menarik dukungan serta investasi.  

Kepatuhan Regulasi dan Ketahanan Bisnis di Era Baru

Kerangka regulasi terkait GRK terus berkembang dan semakin ketat, baik secara global maupun di Indonesia. Indonesia sendiri telah berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK secara signifikan, dengan target 31,89% secara mandiri dan hingga 43,2% dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK No. 51/2017 telah mewajibkan entitas keuangan, emiten, dan perusahaan publik untuk menyampaikan laporan keberlanjutan. Meskipun mandat spesifik untuk pelaporan Lingkup 3 masih dalam tahap pengembangan dan rekomendasi, OJK merekomendasikan bank untuk memprioritaskan Lingkup 1 dan 2 pada tahun pertama pelaporan dan memperluas ke Lingkup 3 dalam laporan berikutnya.  

Selain itu, standar internasional seperti IFRS S1 dan S2 yang diterbitkan oleh International Sustainability Standards Board (ISSB) (yang telah menyerap TCFD) mendorong pengungkapan terkait iklim yang wajib. Mengelola Lingkup 3 membantu perusahaan memenuhi persyaratan regulasi saat ini dan membangun ketahanan terhadap regulasi masa depan, termasuk potensi penerapan pajak karbon di Indonesia yang dirancang sebagai instrumen untuk mendorong pengurangan emisi. Verifikasi pihak ketiga juga menjadi semakin penting untuk memastikan akurasi dan keandalan pelaporan GRK.  

Peluang Finansial dan Keunggulan Kompetitif

Pengelolaan emisi Lingkup 3 bukan hanya biaya, melainkan investasi. Perusahaan yang menetapkan strategi pengurangan emisi GRK, termasuk Lingkup 3, melaporkan peningkatan profitabilitas, penghematan biaya, dan peningkatan efisiensi operasional. Dengan mengidentifikasi area operasional yang boros energi di seluruh rantai nilai melalui carbon reporting, perusahaan dapat menekan biaya secara signifikan. Langkah ini tidak hanya menguntungkan dari sisi keberlanjutan tetapi juga dari segi profitabilitas.  

Selain itu, pengelolaan Lingkup 3 yang transparan dan efektif meningkatkan kepercayaan investor dan skor ESG, menarik modal yang semakin peduli keberlanjutan. Pasar merespon positif terhadap upaya perusahaan dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan risiko perubahan cuaca akibat emisi GRK yang mereka timbulkan. Memperkuat reputasi merek dan mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar yang semakin sadar lingkungan juga merupakan manfaat nyata. Kepatuhan terhadap regulasi carbon reporting global bahkan dapat memudahkan ekspansi pasar internasional, membuka peluang bisnis baru yang lebih luas dan berkelanjutan.  

Manajemen Rantai Pasok yang Lebih Baik dan Kolaborasi Strategis

Fokus pada emisi Lingkup 3 memaksa perusahaan untuk memahami rantai nilai mereka secara lebih mendalam, mengidentifikasi risiko dan peluang di seluruh ekosistem bisnis. Ini membuka pintu untuk kolaborasi yang lebih erat dengan pemasok, distributor, dan bahkan pelanggan untuk secara kolektif mengurangi emisi. Kolaborasi ini dapat mendorong inovasi, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan nilai bersama. Dekarbonisasi rantai pasok memiliki potensi untuk melipatgandakan dampak pengurangan karbon perusahaan secara keseluruhan. Dengan demikian, rantai pasok yang seringkali menjadi sumber emisi Lingkup 3 yang paling menantang, dapat ditransformasi dari beban menjadi aset strategis. Melalui kolaborasi aktif dan keterlibatan mendalam dengan mitra rantai nilai, perusahaan tidak hanya mengatasi kompleksitas pengukuran dan pengurangan, tetapi juga menciptakan peluang untuk inovasi bersama, peningkatan efisiensi, dan penciptaan nilai kolektif yang melipatgandakan dampak dekarbonisasi.  

III. Tantangan dalam Mengelola Emisi Lingkup 3: Kompleksitas dan Solusi

Meskipun penting, pengelolaan emisi Lingkup 3 tidaklah mudah. Ada beberapa tantangan signifikan yang perlu diatasi:

Kompleksitas Data dan Pengukuran

Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan Lingkup 3 adalah kompleksitas data. Data yang diperlukan sangat bervariasi dan seringkali berasal dari berbagai sumber di luar kendali langsung perusahaan, seringkali tidak terstruktur atau disimpan di sistem pihak ketiga. Mengidentifikasi seluruh sumber emisi tidak langsung, terutama di rantai pasok yang panjang dan rumit, adalah tugas yang sulit. Kurangnya data yang akurat dan transparan dapat menyebabkan perhitungan emisi yang salah, menghambat kemampuan perusahaan untuk memastikan jejak karbon mereka dan mematuhi standar keberlanjutan.  

Meskipun GHG Protocol menyediakan panduan dengan 13 metode perhitungan dan pohon keputusan, serta merekomendasikan penggunaan data proksi jika data primer tidak cukup , konsistensi dalam implementasi masih menjadi isu. Di Indonesia, tantangan ini diperparah oleh kurangnya sistem MRV (Measurement, Reporting, and Verification) yang memadai di tingkat perusahaan. Banyak perusahaan yang belum memiliki kapasitas teknis maupun sistem pencatatan emisi yang dapat diandalkan. Terdapat juga kesenjangan data yang signifikan antara laporan inventarisasi GRK nasional dan estimasi independen, seperti yang terlihat pada emisi metana dari tambang batu bara, yang berisiko melemahkan upaya pemerintah untuk memenuhi komitmen Indonesia terhadap Global Methane Pledge. Kesenjangan dan inkonsistensi data dalam pengukuran emisi Lingkup 3, terutama di tingkat rantai pasok dan diwarnai oleh tantangan MRV di Indonesia, merupakan hambatan signifikan tidak hanya bagi perusahaan individu tetapi juga bagi pencapaian target dekarbonisasi nasional. Tanpa data yang akurat dan terverifikasi dari Lingkup 3, upaya pemerintah untuk memenuhi komitmen iklimnya menjadi rentan, menyoroti urgensi peningkatan kapasitas pelaporan dan standardisasi di seluruh sektor swasta.  

Keterbatasan Kendali dan Kebutuhan Kolaborasi

Berbeda dengan Lingkup 1 dan 2 yang berada di bawah kendali langsung perusahaan, emisi Lingkup 3 terjadi di luar operasi langsung perusahaan dan melibatkan banyak pihak di rantai nilai. Tantangannya adalah bagaimana perusahaan secara efektif melibatkan berbagai pihak ini—mulai dari pemasok bahan baku hingga distributor dan pengguna akhir—untuk mengelola emisi Lingkup 3 secara kolektif. Hal ini memerlukan pendekatan yang berbeda, berfokus pada pengaruh dan kolaborasi daripada kontrol langsung.  

Biaya dan Kurangnya Metodologi Standar

Penerapan teknologi, sistem, dan proses untuk mengukur dan mengelola Lingkup 3 secara akurat dapat memerlukan investasi finansial yang signifikan. Selain itu, meskipun ada panduan seperti GHG Protocol, masih terdapat tantangan terkait kurangnya metodologi yang sepenuhnya terstandar secara universal untuk perhitungan Lingkup 3. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan dalam cara perusahaan mengukur emisi mereka, membuat perbandingan kinerja antar perusahaan menjadi sulit dan mengurangi kredibilitas pelaporan.  

Peran Teknologi dan Standar Global sebagai Solusi

Untuk mengatasi tantangan ini, teknologi dan kerangka kerja global memainkan peran krusial:

  • Perangkat Lunak Akuntansi Karbon: Memungkinkan pencatatan dan analisis data emisi yang akurat, serta mengelola data secara terstruktur dan terpusat. Contohnya adalah perangkat lunak perhitungan emisi karbon dari BATS Consulting.  

  • Sistem ERP (Enterprise Resource Planning): Dapat mengintegrasikan data karbon ke dalam operasional bisnis secara otomatis, memastikan pelaporan yang lebih cepat, akurat, dan sesuai standar global, serta mengoptimalkan analisis tren emisi untuk strategi keberlanjutan jangka panjang.  

  • Kerangka Pelaporan Internasional:

    • GHG Protocol: Menyediakan standar global yang diakui untuk perhitungan dan pelaporan emisi GRK.  

    • CDP (Carbon Disclosure Project): Platform yang membantu perusahaan mengukur dan mengelola dampak lingkungan mereka.  

    • GRI (Global Reporting Initiative): Kerangka kerja yang digunakan untuk mengukur dan melaporkan tingkat pengungkapan emisi GRK dalam laporan keberlanjutan.  

    • TCFD (Task Force on Climate-related Financial Disclosures) & ISSB (International Sustainability Standards Board): Mendorong pengungkapan keuangan terkait iklim yang konsisten dan andal. ISSB telah menerbitkan standar IFRS S1 dan S2 yang mengarah pada pengungkapan wajib.  

IV. Langkah Strategis Menuju Pengelolaan Emisi Lingkup 3 yang Efektif

Mengelola emisi Lingkup 3 secara efektif membutuhkan pendekatan yang terstruktur dan kolaboratif. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang dapat diambil perusahaan:

Identifikasi dan Penilaian Sumber Emisi

Langkah fundamental adalah melakukan identifikasi menyeluruh terhadap semua sumber emisi Lingkup 3 yang potensial, baik di hulu maupun hilir, sebagai bagian dari inventarisasi GRK yang komprehensif (Lingkup 1, 2, dan 3). Ini melibatkan analisis terperinci terhadap profil emisi perusahaan saat ini untuk mengidentifikasi titik-titik emisi terbesar dan peluang pengurangan yang paling menjanjikan. Perusahaan juga perlu memilih kategori emisi Lingkup 3 yang paling relevan dengan industri dan model bisnis mereka, serta menetapkan batasan pelaporan yang jelas.  

Prioritisasi dan Pengembangan Strategi Pengurangan yang Bertarget

Setelah identifikasi, fokus harus diberikan pada sumber emisi yang paling signifikan dan material. Ini melibatkan pengembangan dan penerapan langkah-langkah pengurangan yang ditargetkan, yang idealnya selaras dengan skenario perubahan iklim 1,5°C, seperti melalui penetapan Science-Based Targets (SBTi). Penetapan target yang Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu (SMART) untuk jangka pendek dan panjang adalah esensial untuk memandu upaya dekarbonisasi.  

Keterlibatan Aktif dengan Mitra Rantai Nilai

Mengingat bahwa emisi Lingkup 3 sebagian besar berada di luar kendali langsung perusahaan, kolaborasi aktif dengan pemasok, distributor, pelanggan, dan mitra lainnya di seluruh rantai nilai menjadi sangat penting. Pendekatan ini dapat melibatkan pengembangan program insentif, transfer pengetahuan, atau bahkan persyaratan kontrak yang mendorong praktik berkelanjutan. Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi emisi secara kolektif tetapi juga untuk membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan inovatif. Rantai pasok, yang seringkali menjadi sumber emisi Lingkup 3 yang paling menantang, dapat ditransformasi dari beban menjadi aset strategis. Melalui kolaborasi aktif dan keterlibatan mendalam dengan mitra rantai nilai, perusahaan tidak hanya mengatasi kompleksitas pengukuran dan pengurangan, tetapi juga menciptakan peluang untuk inovasi bersama, peningkatan efisiensi, dan penciptaan nilai kolektif yang melipatgandakan dampak dekarbonisasi.  

Pelaporan Transparan dan Verifikasi Pihak Ketiga

Menjaga transparansi dalam pelaporan emisi adalah kunci untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan pemangku kepentingan. Pelaporan harus akurat dan komprehensif, dan idealnya diverifikasi oleh pihak ketiga untuk memastikan kredibilitas dan keandalan data. Pemanfaatan kerangka pelaporan internasional seperti CDP, GRI, dan TCFD/ISSB dapat membantu perusahaan menyusun laporan yang memenuhi standar global dan ekspektasi pasar.  

Penyempurnaan Berkelanjutan

Pengelolaan emisi Lingkup 3 adalah proses yang dinamis dan berkelanjutan. Perusahaan perlu secara berkala menyempurnakan praktik manajemen mereka, memantau kemajuan terhadap target, dan menyesuaikan strategi berdasarkan data dan wawasan baru. Penggunaan perangkat lunak manajemen emisi dapat sangat membantu dalam melacak dan melaporkan kemajuan secara efisien, serta memberikan wawasan untuk peluang pengurangan emisi lebih lanjut.  

V. Kesimpulan: Bergerak Maju dengan BATS Consulting

Dalam iklim bisnis saat ini, pengelolaan emisi GRK Lingkup 3 telah bertransformasi dari sekadar praktik terbaik menjadi keharusan strategis yang tak terhindarkan untuk keberlanjutan dan kesuksesan bisnis jangka panjang. Memahami dan mengelola "jejak karbon tersembunyi" ini adalah kunci untuk mendapatkan gambaran komprehensif tentang dampak lingkungan perusahaan, memenuhi ekspektasi yang terus meningkat dari investor dan pemangku kepentingan lainnya, mematuhi regulasi yang semakin ketat, dan yang terpenting, membuka peluang bisnis baru yang signifikan di era ekonomi rendah karbon.

BATS Consulting memahami sepenuhnya kompleksitas dan urgensi yang melekat pada pengelolaan emisi Lingkup 3 bagi perusahaan. Kami menyadari bahwa tantangan dalam pengumpulan data, kurangnya standardisasi, dan keterbatasan kendali dapat menjadi hambatan besar. Namun, kami melihatnya sebagai peluang untuk inovasi dan keunggulan. BATS Consulting berfungsi sebagai jembatan penting yang menghubungkan perusahaan dengan solusi untuk mengatasi tantangan kompleks emisi Lingkup 3. Mengingat kesulitan dalam pengumpulan data, kurangnya standardisasi, dan keterbatasan kendali, BATS Consulting memposisikan diri sebagai penyedia keahlian yang menerjemahkan data lingkungan yang rumit menjadi strategi bisnis yang dapat ditindaklanjuti, memungkinkan perusahaan untuk tidak hanya mematuhi regulasi tetapi juga mencapai keunggulan kompetitif dan tujuan keberlanjutan jangka panjang.

Sebagai mitra strategis, BATS Consulting hadir untuk membantu perusahaan menavigasi lanskap keberlanjutan yang kompleks ini, mengubah data lingkungan yang rumit menjadi wawasan bisnis yang dapat ditindaklanjuti.

Layanan Kami Meliputi:

  • Konsultasi Keberlanjutan Komprehensif: Kami membantu merancang dan mengimplementasikan strategi keberlanjutan yang holistik, selaras dengan tujuan bisnis inti dan target dekarbonisasi global, termasuk panduan menuju Net Zero.

  • Akuntansi Karbon dan Inventarisasi GRK (Lingkup 1, 2, & 3): Tim ahli kami memastikan pengukuran emisi yang akurat dan terverifikasi, sesuai dengan standar global seperti GHG Protocol. Kami membantu mengidentifikasi sumber emisi, mengumpulkan data yang kompleks dari seluruh rantai nilai, dan menyusun inventarisasi yang kredibel dan dapat diaudit.

  • Strategi Dekarbonisasi Rantai Pasok: Kami mengembangkan peta jalan pengurangan emisi yang realistis dan efektif, dengan fokus khusus pada kolaborasi hulu dan hilir. Ini termasuk membantu menetapkan Science-Based Targets (SBTi) dan merancang program untuk mengurangi emisi di seluruh ekosistem pemasok dan distribusi.

  • Pelaporan Keberlanjutan dan Kepatuhan Regulasi: Kami membimbing dalam menyusun laporan keberlanjutan yang transparan, memenuhi persyaratan regulasi domestik (seperti POJK No. 51/2017) dan standar internasional terkemuka (seperti CDP, GRI, TCFD/ISSB). Pelaporan yang akurat ini tidak hanya memastikan kepatuhan tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor dan pemangku kepentingan.

  • Analisis Risiko Iklim dan Peluang Bisnis Hijau: Kami membantu mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko fisik dan transisi terkait iklim dalam operasi dan rantai nilai, sekaligus mengungkap peluang bisnis baru yang muncul dari transisi menuju ekonomi hijau.

Dengan bermitra bersama BATS Consulting, perusahaan tidak hanya memenuhi kewajiban keberlanjutan, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang lebih tangguh, efisien, dan siap menghadapi masa depan yang berkelanjutan dan kompetitif.


Share to:

Get In Touch

+6221 2212 9136

info.batsinternationalgroup@gmail.com

Follow Us

image-responsive

Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1 Level3 Suite 304, SCBD Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53. Jakarta Selatan 12190

+6221 2212 9136

+6281 6110 5174

info@sustainabilityassurer.bats-consulting.com

sustainabilityassurer.bats-consulting.com

Flickr Photos

© Bats Consulting